JAKARTA – PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) membeberkan kondisi kinerja dan perkembangan bisnis perseroan dalam menanggapi permintaan penjelasan dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait pergerakan harga saham.
Dalam surat bernomor 048/DBL-IDX/X/2026, perseroan menyampaikan klarifikasi atas surat BEI S-12675/BEI.PP2/10-2026 yang diterima pada 2 Oktober 2026.
Manajemen TEBE menjelaskan, kinerja operasional pada semester I 2026 menghadapi tekanan akibat penurunan volume loading batu bara sebesar 24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut terjadi karena permintaan pengapalan batu bara dari pemilik Izin Usaha Pertambangan (IUP) menurun menyusul belum disetujuinya Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 hingga semester I 2026.
Meski volume operasional turun, pendapatan konsolidasian TEBE justru meningkat 3,5% menjadi Rp176,9 miliar pada semester I 2026, dibandingkan Rp170,9 miliar pada semester I 2025.
Manajemen menyebut peningkatan pendapatan tersebut mencerminkan strategi diversifikasi jasa logistik batu bara yang dilakukan perseroan di tengah penurunan produksi komoditas tersebut.
Di sisi lain, laba bersih TEBE tercatat Rp20,1 miliar atau turun 27,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan laba dipengaruhi oleh berkurangnya produksi batu bara serta kenaikan harga pokok produksi, terutama akibat meningkatnya harga bahan bakar solar sepanjang semester I 2026.
Sementara itu, total aset perseroan per 30 Juni 2026 tercatat Rp1,09 triliun, turun sekitar 15% dibandingkan posisi 31 Desember 2025. Penurunan aset terutama disebabkan pembayaran dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp200,5 miliar yang dilakukan pada semester I 2026.
Dari sisi likuiditas dan struktur permodalan, kondisi keuangan TEBE masih terjaga. Perseroan memiliki kas dan setara kas Rp433,4 miliar, rasio lancar 12,8 kali, serta debt to equity ratio (DER) sebesar 4,9% tanpa pinjaman berbunga.
Mulai Jajaki Trading Batu Bara
Setelah periode laporan keuangan tersebut, TEBE menyatakan tidak terdapat kontrak baru maupun sumber pendapatan baru yang signifikan dan material.
Namun, melalui anak usaha PT Talenta Bumi, perseroan mulai menjalankan aktivitas trading batu bara. Dari kegiatan tersebut, TEBE telah merealisasikan pengiriman perdana sebesar 7,4 ribu metrik ton (MT).
Meskipun kontribusi pendapatannya saat ini belum signifikan, perseroan melihat aktivitas trading tersebut sebagai bagian dari strategi diversifikasi untuk membuka sumber pendapatan baru di luar bisnis infrastruktur dan kepelabuhanan.
Realisasi shipment perdana tersebut sekaligus menjadi tahap awal untuk menguji model bisnis trading batu bara. Perseroan memanfaatkan sinergi fasilitas pelabuhan dan jaringan logistik yang telah dimiliki.
Ke depan, pengembangan bisnis trading akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan peluang yang tersedia. TEBE berharap bisnis tersebut dapat memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan konsolidasian secara berkelanjutan, tanpa mengesampingkan bisnis utama di bidang infrastruktur dan jasa kepelabuhanan.
Perkuat Bisnis Kepelabuhanan
Dalam kegiatan usaha eksisting, TEBE menjalankan jasa kepelabuhanan melalui anak usaha PT Pelabuhan Talenta Bumi (PTB) selaku Badan Usaha Kepelabuhanan (BUP).
Sebelum 2026, kegiatan usaha tersebut dijalankan oleh PT Talenta Bumi. Namun setelah PT Pelabuhan Talenta Bumi ditunjuk sebagai BUP dan memperoleh izin operasi pada Januari 2026, kegiatan jasa kepelabuhanan dialihkan kepada PTB.
Saat ini, PT Pelabuhan Talenta Bumi masih melayani komoditas batu bara. Perseroan tengah melakukan kajian untuk memperluas layanan kepelabuhanan ke komoditas di luar batu bara.
Jasa loading batu bara dan kepelabuhanan hingga kini masih menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan TEBE dengan porsi 46,7%.
Selain kepelabuhanan, melalui PT Talenta Bumi, perseroan juga menjalankan usaha jasa jalan angkut atau hauling road dan trading batu bara.
Untuk 2026, strategi TEBE difokuskan pada penguatan operasional, efisiensi biaya, optimalisasi aset, serta pengembangan peluang usaha baru. Perseroan akan melakukan pengendalian biaya operasional dan evaluasi berkala terhadap aktivitas maupun proses kerja untuk menjaga efisiensi dan daya saing.
Perseroan juga mengoptimalkan pemanfaatan aset dengan meningkatkan utilisasi dan produktivitas guna memberikan nilai tambah.
Sementara untuk 2027, TEBE menargetkan pertumbuhan positif dan proporsional. Namun, besaran pertumbuhan akan disesuaikan dengan kondisi pasar, dinamika harga komoditas global, serta perkembangan pemulihan ekonomi.
Selain itu, melalui PT Talenta Bumi Energi, perseroan sedang mengajukan izin untuk menjalankan kegiatan usaha trading bahan bakar minyak (BBM).
Volume Loading Kembali Meningkat
TEBE juga menjelaskan adanya perbaikan aktivitas operasional pada Juli hingga Agustus 2026. Peningkatan volume hauling dan loading terutama didorong oleh naiknya produksi batu bara dari pemilik IUP yang menjadi pengguna jasa perseroan.
Kondisi tersebut turut didukung oleh persetujuan RKAB pemilik IUP oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Perseroan menyebut volume loading mulai meningkat sejak Agustus 2026. Volume tercatat sekitar 572.000 ton pada Agustus dan meningkat menjadi 810.000 ton hingga akhir September 2026.
Manajemen menilai peningkatan produksi batu bara oleh pengguna jasa pada periode Agustus-September turut mendorong kenaikan penggunaan jasa perseroan.
Untuk memperluas bisnis, TEBE juga sedang menjajaki pengembangan komoditas di luar batu bara. Perseroan memiliki kapasitas untuk memberikan layanan kepelabuhanan terhadap berbagai jenis komoditas sesuai perizinan dan ketentuan yang berlaku.
Komoditas yang dijajaki antara lain komoditas pendukung industri serta sektor pendukung energi dan bahan baku operasional. Pada tahap awal, pengembangan tersebut akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan internal grup guna meningkatkan efisiensi dan kepastian rantai pasok.
Namun, perseroan belum menetapkan secara spesifik skema maupun waktu pelaksanaan karena masih melakukan kajian awal yang mencakup potensi pasar, kesiapan infrastruktur dan aset, aspek operasional, ekonomi, serta faktor relevan lainnya.
Harga Batu Bara Jadi Salah Satu Faktor Penggerak Saham
Terkait pergerakan harga saham TEBE, manajemen menilai terdapat sejumlah faktor eksternal dan internal yang memengaruhinya.
Dari sisi eksternal, salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah lonjakan harga batu bara global yang sempat mencapai US$153 per ton pada September 2026 seiring peningkatan permintaan ekspor batu bara.
Selain itu, optimisme pasar terhadap ekspansi bisnis perusahaan-perusahaan yang masih berada dalam satu ekosistem atau terafiliasi dengan perseroan serta persetujuan RKAB pemilik IUP oleh Kementerian ESDM turut menjadi faktor yang diperhitungkan.
Dari sisi internal, mulai beroperasinya PT Pelabuhan Talenta Bumi sebagai BUP pada 2026 menjadi salah satu perkembangan penting. TEBE juga berhasil membukukan laba positif pada laporan keuangan kuartal II 2026 meski sebelumnya terjadi penundaan penetapan RKAB.
Manajemen juga mencatat kenaikan volume loading mulai Agustus hingga September 2026 serta peningkatan produksi batu bara dari pengguna jasa perseroan.
Sementara itu, penurunan margin laba kotor pada semester I 2026 disebabkan oleh beberapa faktor. Perseroan menyebut adanya pergeseran pencatatan biaya pegawai yang berkaitan langsung dengan jasa konsultasi manajemen, penurunan loading batu bara sebagai lini produksi utama, serta kenaikan harga bahan bakar.
Dari sisi industri, TEBE menilai kondisi persaingan usaha masih relatif stabil dan belum menunjukkan pergeseran preferensi permintaan yang signifikan di pasar energi. Namun, terjadi perubahan sumber permintaan batu bara, yang sebelumnya berasal dari pasar ekspor dan domestik menjadi lebih didominasi permintaan dalam negeri.
Sejumlah faktor makroekonomi juga menjadi perhatian perseroan, termasuk kenaikan harga minyak dunia yang dapat mendorong permintaan ekspor batu bara sebagai bahan bakar substitusi.
Pertumbuhan ekonomi negara importir utama seperti China dan India juga dinilai berpengaruh terhadap permintaan dan harga batu bara. Di dalam negeri, kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) memberikan kepastian volume permintaan domestik.
Selain itu, kebijakan pemerintah terkait pasokan, termasuk penetapan RKAB dan mekanisme ekspor baru pascapendirian PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), turut memengaruhi perizinan produksi batu bara nasional dan selanjutnya berdampak terhadap harga jual komoditas tersebut.
Tidak Ada Perkara Hukum Material
Dalam keterbukaannya kepada BEI, TEBE memastikan tidak terdapat perkara hukum yang sedang dihadapi perseroan, anak usaha, maupun anggota Direksi dan Dewan Komisaris yang berdampak material dan belum diungkapkan kepada publik.
Perseroan juga menyatakan tidak terdapat informasi atau fakta material lain yang saat ini belum diungkapkan dan berpotensi memengaruhi harga saham maupun keputusan investasi pemodal.
Terkait informasi material yang beredar di media massa, manajemen menyatakan tidak dapat menjamin kebenaran maupun keabsahannya, kecuali informasi yang secara resmi disampaikan perseroan melalui keterbukaan informasi, public expose, laporan, dan pengumuman lainnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, TEBE menyatakan akan terus menjaga ketahanan usaha sembari mengembangkan sumber pertumbuhan baru. Diversifikasi melalui trading batu bara, pengembangan layanan kepelabuhanan di luar batu bara, hingga rencana masuk ke bisnis trading BBM menjadi bagian dari upaya perseroan memperluas sumber pendapatan di masa mendatang.












