Menu ✖

Mode Gelap
Komisaris AKPI Henry Liem Kurangi Kepemilikan 250 Ribu Saham RANS Entertainment (RANS) Klarifikasi Isu Pengerahan Warga Berbayar di RANS Carnival Yogyakarta Indo Boga Sukses (IBOS) Buka Flagship Segafredo Caffè di Sleman, Grand Opening 7 November BEI Pertahankan Suspensi Saham MENN dan SOUL, Belum Sampaikan Laporan Keuangan Semester I-2026 Sandiaga Uno Borong 915.000 Saham MUTU, Kini Kantongi 9,51 Juta Saham Laba Bersih CBDK Melonjak 39% Jadi Rp1,82 Triliun hingga September 2026

Ekonomi

Harga Emas Dunia Melemah Tiga Pekan Beruntun, Pasar Waspadai Lonjakan Minyak dan Suku Bunga The Fed

badge-check


					Reksa Dana Syariah Mandiri ETF Emas (kode bursa: XMES) Perbesar

Reksa Dana Syariah Mandiri ETF Emas (kode bursa: XMES)

Harga emas dunia masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (14/9) setelah mencatat penurunan selama tiga pekan berturut-turut. Logam mulia diperdagangkan di kisaran US$4.300 per troy ounce seiring meningkatnya harga minyak dunia dan menguatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga.

Tekanan terhadap emas muncul ketika investor mulai mengalihkan perhatian pada potensi inflasi yang lebih tinggi akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.

Harga Minyak Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah

Kenaikan harga minyak menjadi faktor utama yang membebani pergerakan emas. Harga minyak mentah melonjak mendekati level tertinggi dalam empat bulan setelah Arab Saudi menutup salah satu jalur pipa minyak utama yang digunakan untuk menghindari Selat Hormuz.

Penutupan pipa tersebut dilakukan menyusul serangan drone yang memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah. Gangguan terhadap jalur distribusi energi global memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dan mendorong kenaikan harga energi.

Kondisi ini diperkirakan memberikan dorongan inflasi baru bagi perekonomian global, sekaligus memperkuat pandangan bahwa bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Capai 86 Persen

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 86 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam pertemuan kebijakan yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu pekan ini.

Ekspektasi kenaikan suku bunga membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan imbal hasil obligasi dan aset berbasis dolar AS.

Inflasi AS Masih Bertahan Sesuai Perkiraan

Data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis pada Jumat lalu turut memperkuat ekspektasi kebijakan hawkish The Fed.

Inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) tercatat sebesar 3,4 persen secara tahunan pada Agustus, sama seperti Juli dan sesuai dengan proyeksi pasar.

Sementara itu, CPI bulanan naik 0,4 persen, menjadi kenaikan bulanan terbesar dalam tiga bulan terakhir. Angka tersebut menunjukkan tekanan harga masih bertahan di tengah kenaikan biaya energi.

Harga Produsen dan Pasar Tenaga Kerja Masih Kuat

Selain inflasi konsumen, Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat juga meningkat pada Agustus. Kenaikan harga produsen dipicu lonjakan biaya energi grosir yang dipengaruhi konflik antara Iran dan Israel.

Di sisi lain, data pasar tenaga kerja menunjukkan kondisi ketenagakerjaan AS masih relatif tangguh. Ketahanan pasar kerja memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama demi memastikan inflasi kembali menuju target.

Emas Masih Berpotensi Berfluktuasi

Dengan kombinasi harga minyak yang terus meningkat, tekanan inflasi, dan peluang kenaikan suku bunga The Fed, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan berfluktuasi dalam jangka pendek.

Investor kini menunggu hasil rapat Federal Reserve dan sinyal kebijakan moneter berikutnya yang berpotensi menjadi penentu arah harga emas serta pergerakan dolar AS dalam beberapa pekan mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perang Iran Dongkrak Tarif Kapal Tanker Tembus US$1 Juta per Hari, Siapa Untung dan Siapa Menanggung Biayanya?

20 September 2026 - 10:08 WIB

Wall Street Diproyeksi Melemah, Kekhawatiran AI dan Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed Tekan Pasar

14 September 2026 - 07:50 WIB

PPRO Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa NTT, Dukung Pemulihan Pascabencana

2 September 2026 - 21:32 WIB

PPRO Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa NTT,

Bursa Asia Bergerak Datar Jelang Sanksi Baru AS ke Iran, Pasar Menanti Laporan Keuangan Nvidia dan Sinyal The Fed

24 Agustus 2026 - 08:18 WIB

Asia Market

Vanguard Ungkap Alasan Investor Sebaiknya Tak Terjebak Timing Pasar

16 Agustus 2026 - 11:30 WIB

Managing Director Asia Pacific Vanguard, Daniel Shrimski
Trending di Ekonomi