BIZBUZ.ID – Keputusan mengejutkan datang dari Strategy Inc. (dulu bernama MicroStrategy). Perusahaan milik miliarder Bitcoin Michael Saylor memutuskan tidak membeli Bitcoin sama sekali pada pekan yang berakhir 19 Juli 2026.
Alih-alih menambah kepemilikan aset kripto, Strategy justru meningkatkan cadangan kasnya sebesar US$225 juta atau sekitar Rp3,7 triliun (kurs Rp16.500 per dolar AS). Dengan tambahan tersebut, total kas perusahaan kini mencapai US$3,2 miliar atau sekitar Rp52,8 triliun.
Langkah ini langsung menjadi perhatian pelaku pasar karena Strategy selama ini dikenal sebagai perusahaan publik yang paling agresif mengakumulasi Bitcoin.
Strategy Masih Menjadi Raja Pemegang Bitcoin
Dilansir dari www.cryptotimes.io, meski menghentikan pembelian untuk sementara, Strategy tetap menjadi perusahaan dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia.
Berdasarkan laporan terbaru, perusahaan masih menguasai:
- 843.775 Bitcoin (BTC)
- Nilai pasar sekitar US$54,6 miliar
- Setara hampir 4% dari total suplai maksimum Bitcoin yang hanya 21 juta koin.
Jumlah tersebut menjadikan setiap keputusan Strategy memiliki pengaruh besar terhadap sentimen pasar kripto global.
Dari Mana Uang US$225 Juta Itu Berasal?
Tambahan kas tersebut berasal dari penjualan sekitar 2,73 juta saham Class A melalui program At-The-Market (ATM).
Program ini memungkinkan perusahaan menjual saham secara bertahap di pasar tanpa harus melakukan penawaran saham besar sekaligus.
Menariknya, dana hasil penjualan saham tidak selalu digunakan membeli Bitcoin. Strategy kini memiliki fleksibilitas untuk memilih apakah dana tersebut akan digunakan untuk:
- membeli Bitcoin,
- memperkuat cadangan kas,
- memenuhi kebutuhan operasional,
- atau mendukung strategi investasi lainnya.
Michael Saylor Kini Lebih Fokus Mengelola Risiko
Selama bertahun-tahun Michael Saylor dikenal dengan strategi sederhana: membeli Bitcoin sebanyak mungkin.
Namun kini pendekatannya mulai berubah.
Pada akhir Juni 2026, Strategy meluncurkan sistem baru bernama Digital Credit Capital Framework, yaitu kerangka manajemen keuangan yang dirancang agar perusahaan tetap mampu mempertahankan kepemilikan Bitcoin sekaligus memiliki likuiditas yang kuat.
Framework tersebut mencakup beberapa kebijakan penting, antara lain:
- Menyimpan cadangan kas yang cukup untuk membayar seluruh bunga utang dan dividen selama minimal 12 bulan.
- Menyediakan program pembelian kembali saham hingga US$1 miliar.
- Menyediakan fasilitas monetisasi Bitcoin hingga US$1,25 miliar apabila diperlukan.
- Meningkatkan perlindungan terhadap kondisi pasar yang bergejolak.
Dengan strategi ini, perusahaan tidak perlu menjual Bitcoin secara terpaksa ketika harga sedang turun.
Cadangan Kas Kini Mencapai Rp52 Triliun
Setelah penambahan terbaru, Strategy memiliki cadangan kas sekitar US$3,2 miliar.
Jika digabungkan dengan kapasitas monetisasi Bitcoin yang telah disiapkan perusahaan, total likuiditas Strategy dapat mencapai hampir US$4 miliar.
Cadangan sebesar itu dinilai cukup untuk menutupi berbagai kewajiban perusahaan selama lebih dari dua tahun, bahkan dalam skenario pasar yang konservatif.
Harga Beli Bitcoin Strategy Masih Lebih Tinggi
Menariknya, rata-rata harga pembelian Bitcoin milik Strategy berada di kisaran US$75.476 per BTC.
Sementara harga Bitcoin saat laporan dirilis berada di sekitar US$64.780.
Artinya, secara rata-rata posisi investasi perusahaan masih berada di bawah harga akumulasinya.
Meski demikian, Michael Saylor tetap menegaskan bahwa Bitcoin merupakan aset penyimpan nilai terbaik untuk jangka panjang dan fluktuasi harga jangka pendek bukan alasan untuk mengubah strategi perusahaan.
Mengapa Strategy Tidak Membeli Bitcoin?
Ada beberapa alasan yang dinilai menjadi pertimbangan perusahaan:
1. Memperkuat Likuiditas
Cadangan kas yang besar membuat perusahaan memiliki ruang gerak lebih luas ketika kondisi ekonomi global berubah.
2. Menunggu Momentum Harga
Dengan kas yang lebih besar, Strategy memiliki amunisi apabila harga Bitcoin mengalami koreksi sehingga dapat membeli dalam jumlah lebih besar di kemudian hari.
3. Menjaga Kepercayaan Investor
Likuiditas yang kuat membantu meningkatkan profil kredit perusahaan sekaligus memberikan rasa aman kepada investor.
Jadi Contoh bagi Perusahaan Publik
Selama beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan mulai mempertimbangkan Bitcoin sebagai aset treasury.
Namun Strategy menunjukkan bahwa kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar tetap harus diimbangi dengan pengelolaan kas yang sehat.
Model yang diterapkan Michael Saylor kini dianggap sebagai salah satu contoh paling matang dalam mengelola aset digital di neraca perusahaan.
Alih-alih hanya fokus membeli Bitcoin, Strategy kini mengombinasikan penerbitan saham, pembangunan cadangan kas, kebijakan monetisasi yang terukur, serta manajemen risiko yang disiplin.
Pendekatan tersebut dinilai dapat menjadi acuan bagi perusahaan lain yang ingin mengadopsi Bitcoin tanpa mengorbankan stabilitas keuangan.
Apakah Strategy masih akan membeli Bitcoin?
Kemungkinan besar iya. Dengan cadangan kas yang lebih besar dan program penerbitan saham yang masih berjalan, Strategy memiliki ruang untuk kembali mengakumulasi Bitcoin ketika kondisi pasar dinilai menguntungkan.
Kesimpulan
Keputusan Michael Saylor menghentikan pembelian Bitcoin untuk sementara bukan berarti Strategy mengubah keyakinannya terhadap aset kripto tersebut. Sebaliknya, langkah ini menunjukkan evolusi strategi perusahaan dari sekadar mengoleksi Bitcoin menjadi mengelola modal secara lebih matang.
Dengan cadangan kas mencapai US$3,2 miliar dan kepemilikan 843.775 BTC, Strategy tetap berada di posisi terdepan dalam adopsi Bitcoin oleh perusahaan publik. Strategi ini diyakini akan memberikan fleksibilitas lebih besar untuk menghadapi volatilitas pasar sekaligus membuka peluang akumulasi Bitcoin di masa mendatang.
Sumber: www.cryptotimes.io












