Menu

Mode Gelap
Cipta Selera Murni (CSMI) Buka Suara soal Kinerja dan Volatilitas Saham, Ungkap Strategi Ekspansi NWS Chicken Bank Aladin Syariah (BANK) Buka Suara Soal Lonjakan Pergerakan Saham, Tegaskan Tak Ada Informasi Material Metrodata (MTDL) Percepat Adopsi Agentic AI, Bidik AI Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Perseroan HABCO Tambah Modal Rp320 Miliar Lewat PMTHMETD, Siapkan Dana untuk Armada Kapal dan Bayar Utang Bank Toyota Celica Dikabarkan Bangkit Lagi, Siap Hadir dengan Mesin 400 HP dan Hybrid 500 HP Volkswagen Siapkan Restrukturisasi Besar, Hingga 50.000 Karyawan Berpotensi Kena PHK

Ekonomi

Vanguard Ungkap Alasan Investor Sebaiknya Tak Terjebak Timing Pasar

badge-check


					Managing Director Asia Pacific Vanguard, Daniel Shrimski Perbesar

Managing Director Asia Pacific Vanguard, Daniel Shrimski

Ketika pasar keuangan bergerak liar, investor kerap tergoda untuk keluar dari pasar demi menghindari kerugian. Namun, keputusan tersebut justru dapat menjadi lebih berisiko jika investor tidak mampu menentukan kapan harus kembali masuk.

Managing Director Asia Pacific Vanguard, Daniel Shrimski, menilai keberhasilan investasi jangka panjang lebih banyak ditentukan oleh kedisiplinan untuk tetap berinvestasi dibandingkan kemampuan menebak arah pasar.

Menurut Shrimski, memprediksi pergerakan pasar secara konsisten bukan perkara mudah. Bahkan para profesional yang memang dibayar untuk melakukan analisis pasar pun menghadapi tantangan yang sama.

“Sangat sulit memprediksi apa yang akan dilakukan pasar. Bahkan para ahli pun kesulitan,” ujar Shrimski dalam program CEO: Behind the Scenes.

Timing Pasar Mengharuskan Dua Keputusan Tepat

Salah satu persoalan utama dalam strategi market timing adalah investor tidak cukup hanya membuat satu keputusan yang benar.

Ketika memutuskan menjual aset saat pasar mulai turun, investor juga harus mengetahui kapan waktu yang tepat untuk kembali membeli.

Artinya, investor harus berhasil mengambil dua keputusan sekaligus, yakni menentukan waktu keluar dan waktu masuk kembali.

“Ketika Anda menjual, Anda harus benar dua kali. Anda harus tahu kapan keluar, tetapi juga harus tahu kapan masuk kembali,” jelas Shrimski.

Tantangan tersebut semakin besar karena pasar dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sulit diprediksi, mulai dari kondisi ekonomi, kebijakan politik hingga perilaku investor.

Psikologi Investor Jadi Faktor Penting

Bagi Shrimski, faktor psikologis justru menjadi salah satu elemen paling penting dalam menentukan hasil investasi jangka panjang.

Ketika pasar bergejolak, investor cenderung bereaksi terhadap berita dan perubahan harga dalam jangka pendek. Padahal, keputusan yang dibuat berdasarkan kepanikan dapat membuat strategi investasi yang sebelumnya sudah dirancang untuk jangka panjang menjadi berantakan.

“Psikologi dan perilaku untuk tetap berada di jalur jauh lebih penting daripada mencoba mendapatkan timing yang tepat,” katanya.

Karena itu, Shrimski mendorong investor untuk memiliki strategi yang jelas sejak awal dan tidak mudah mengubahnya hanya karena pasar mengalami volatilitas.

Diversifikasi Bantu Kelola Risiko

Tetap berinvestasi bukan berarti investor harus mengabaikan risiko.

Shrimski menilai diversifikasi dapat menjadi salah satu cara untuk menyebarkan risiko sekaligus mempertahankan eksposur terhadap potensi pertumbuhan pasar modal dalam jangka panjang.

Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah exchange traded fund (ETF).

Menurutnya, ETF memungkinkan investor mendapatkan eksposur terhadap banyak saham melalui satu produk investasi.

Sebagai contoh, investor dapat membeli ETF yang mereplikasi indeks ASX 300. Dengan satu instrumen tersebut, investor pada dasarnya mendapatkan eksposur terhadap sekitar 300 saham yang terdapat dalam indeks.

Strategi tersebut dapat membantu investor menghindari ketergantungan terhadap kinerja satu perusahaan sekaligus menciptakan portofolio yang lebih terdiversifikasi.

Kepercayaan Harus Dibangun Sebelum Pasar Bergejolak

Shrimski juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan sebelum kondisi pasar mengalami tekanan.

Menurutnya, kepercayaan terhadap strategi investasi tidak seharusnya baru dibangun ketika pasar mulai jatuh. Investor perlu memahami strategi, risiko dan tujuan investasinya sejak awal.

“Bukan soal membangun kepercayaan ketika keadaan mulai bergejolak. Kepercayaan harus dibangun setiap saat, sehingga ketika volatilitas muncul, Anda sudah memiliki kepercayaan tersebut,” ujarnya.

Dengan pemahaman tersebut, investor memiliki peluang lebih besar untuk tetap berpegang pada rencana ketika pasar mengalami tekanan.

Jangan Biarkan Gejolak Jangka Pendek Mengubah Tujuan

Pesan utama Shrimski adalah bahwa volatilitas pasar merupakan bagian dari perjalanan investasi.

Pergerakan harga dalam jangka pendek tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental atau prospek investasi dalam jangka panjang. Karena itu, keputusan untuk mengubah portofolio sebaiknya tidak hanya didasarkan pada ketakutan terhadap pergerakan harga sesaat.

Bagi investor, mempertahankan strategi, melakukan diversifikasi dan mengendalikan biaya dapat menjadi pendekatan yang lebih konsisten dibandingkan mencoba menebak puncak dan dasar pasar.

Pada akhirnya, kemampuan untuk tetap berinvestasi dan tidak bereaksi berlebihan terhadap gejolak jangka pendek dapat menjadi faktor penting dalam menjaga tujuan keuangan jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PPRO Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa NTT, Dukung Pemulihan Pascabencana

2 September 2026 - 21:32 WIB

PPRO Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa NTT,

Bursa Asia Bergerak Datar Jelang Sanksi Baru AS ke Iran, Pasar Menanti Laporan Keuangan Nvidia dan Sinyal The Fed

24 Agustus 2026 - 08:18 WIB

Asia Market

CEO Modern Tak Cukup Jago Strategi, Harus Mampu Menjaga Kepercayaan di Tengah Ketidakpastian

16 Agustus 2026 - 14:43 WIB

Ilustrasi CEO

Apple Siapkan Pesaing Fitbit Air, Perombakan Besar Wearable Mulai Tercium

11 Agustus 2026 - 08:37 WIB

Fitbit Air

Bursa Asia Berguguran! Saham AI Jadi Biang Kerok, KOSPI Ambles 4 Persen Meski Harapan Damai Iran Menguat

3 Agustus 2026 - 11:35 WIB

Trending di Bisnis