Menu

Mode Gelap
Toyota Celica Dikabarkan Bangkit Lagi, Siap Hadir dengan Mesin 400 HP dan Hybrid 500 HP Volkswagen Siapkan Restrukturisasi Besar, Hingga 50.000 Karyawan Berpotensi Kena PHK Chainlink Ungkap Nilai Aset Dunia Nyata di Blockchain Tembus US$340 Miliar, Tokenisasi Diprediksi Melonjak Hingga US$4 Triliun Michael Saylor Tegaskan Warga Amerika Bebas Promosikan Bitcoin Tanpa Lisensi, Ini Alasannya DMAS Raup Marketing Sales Rp1,15 Triliun di Semester I-2026, 75% Permintaan Lahan Industri Datang dari Data Center BEI Umumkan Saham SAFE Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, 98,14% Dikuasai Segelintir Pemegang Saham

Teknologi

Samsung Siapkan Stablecoin di Wallet, Transfer Lintas Negara Mulai Tahun Ini

badge-check


					Samsung Wallet Perbesar

Samsung Wallet

Samsung Electronics mulai membuka babak baru dalam layanan keuangan digital. Raksasa teknologi asal Korea Selatan itu berencana menghadirkan rekening stablecoin, transfer uang lintas negara, hingga pembayaran di toko melalui Samsung Wallet mulai tahun ini.

Dilansir dari Cryptonews.net, dalam keterangan tertulis kepada Sandmark pada 8 Agustus 2026, Samsung menyebut peluncuran akan dilakukan secara bertahap dan diawali di sejumlah negara tertentu. Ekspansi global baru akan dilakukan setelah perusahaan mempertimbangkan regulasi serta kondisi pasar di masing-masing negara.

Pernyataan tersebut menjadi konfirmasi dengan tenggat waktu paling jelas dari Samsung setelah perusahaan pertama kali memperkenalkan rencana stablecoin dalam acara Galaxy Unpacked di London pada 22 Juli 2026.

Stablecoin merupakan aset kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai relatif stabil, umumnya dipatok terhadap dolar Amerika Serikat. Berbeda dengan aset kripto seperti Bitcoin yang banyak digunakan sebagai instrumen investasi, stablecoin lebih sering diarahkan untuk kebutuhan transfer dan pembayaran.

Samsung Wallet Punya Basis Pengguna Besar

Langkah Samsung memiliki potensi pasar yang besar karena Samsung Wallet sudah menjadi bagian dari ekosistem perangkat Galaxy. Aplikasi tersebut mengintegrasikan berbagai layanan seperti kartu pembayaran, identitas digital, kunci elektronik, hingga boarding pass.

Samsung Wallet saat ini tersedia di 61 negara. Di Korea Selatan saja, aplikasi tersebut memiliki lebih dari 19 juta pengguna aktif bulanan, berdasarkan data Wiseapp Retail Goods.

Skala distribusi perangkat Samsung juga menjadi modal penting. Data International Data Corporation (IDC) menunjukkan Samsung mengirimkan sekitar 241,2 juta unit smartphone secara global sepanjang 2025.

Dengan basis perangkat dan pengguna yang besar, integrasi stablecoin berpotensi membawa aset digital lebih dekat ke aktivitas pembayaran sehari-hari.

Bukan Sekadar Dompet Kripto

Samsung sebenarnya telah memiliki teknologi penyimpanan aset kripto melalui Samsung Blockchain Wallet yang diperkenalkan sejak 2019.

Dompet tersebut menggunakan sistem keamanan Samsung Knox dan menerapkan model non-custodial. Artinya, pengguna memegang sendiri kunci privat dan Samsung tidak menguasai aset yang tersimpan.

Samsung Blockchain Wallet telah mendukung sejumlah aset digital seperti Bitcoin, Ether, dan Tron. Dengan mekanisme tersebut, pengguna tertentu bahkan sudah dapat menyimpan serta mengirim stablecoin seperti USDC berbasis Ethereum dan USDT berbasis Tron.

Namun, rencana terbaru Samsung membawa konsep yang berbeda.

Perusahaan berencana menghadirkan mekanisme pembukaan rekening stablecoin, remitansi internasional, dan pembayaran di merchant langsung melalui Samsung Wallet.

Perubahan ini penting karena layanan rekening dan remitansi biasanya membutuhkan proses verifikasi identitas serta kepatuhan terhadap aturan anti pencucian uang. Dalam praktiknya, layanan semacam itu juga umumnya membutuhkan keterlibatan lembaga yang memiliki izin sebagai penyedia jasa keuangan.

Dengan demikian, model yang tengah disiapkan Samsung berpotensi bergerak dari sekadar dompet self-custody menuju layanan yang melibatkan pengelolaan saldo pengguna melalui mitra berlisensi.

Pembayaran Stablecoin Bisa Masuk ke Ekosistem Samsung Pay

Rencana pembayaran di toko menjadi salah satu bagian paling menarik dari strategi Samsung.

Samsung Pay selama ini memungkinkan pengguna melakukan transaksi nirsentuh dengan menggunakan mekanisme tokenisasi pada jaringan pembayaran seperti Visa, Mastercard, maupun jaringan kartu lokal.

Karena Samsung Wallet telah mengintegrasikan Samsung Pay di sebagian besar pasar tempat layanan tersebut tersedia, secara teknis saldo stablecoin berpotensi digunakan dalam ekosistem pembayaran yang sudah dimiliki Samsung.

Jika terealisasi, skema tersebut dapat mempertemukan aset digital dengan jaringan pembayaran konvensional tanpa mengharuskan pengguna berpindah ke aplikasi kripto khusus.

Namun, Samsung belum mengungkap secara rinci bagaimana proses penyelesaian transaksi stablecoin kepada merchant akan dilakukan.

Belum Ungkap Negara dan Mitra Stablecoin

Meski sudah memberikan target waktu, Samsung masih menyimpan sejumlah detail penting.

Perusahaan belum mengumumkan negara yang akan menjadi lokasi peluncuran tahap pertama, stablecoin apa saja yang akan didukung, maupun lembaga keuangan atau penerbit aset digital yang akan menjadi mitra.

Kemunculan USDC dalam materi presentasi Galaxy Unpacked sebelumnya sempat memicu spekulasi mengenai kemungkinan kerja sama dengan Circle, penerbit USDC. CEO Circle, Jeremy Allaire, bahkan membagikan ulang tampilan tersebut di media sosial.

Namun, hingga kini Samsung belum mengonfirmasi Circle sebagai mitra komersial. Kemunculan sebuah token dalam materi pemasaran juga tidak otomatis berarti telah terjadi kesepakatan bisnis.

Di Korea Selatan sendiri, perkembangan regulasi menjadi faktor penting. Komisi Jasa Keuangan Korea Selatan pada akhir Juli menyatakan tengah mempersiapkan kerangka Digital Asset Basic Act yang akan menggabungkan sejumlah rancangan aturan mengenai aset digital dan stablecoin.

Samsung Perluas Jejak di Infrastruktur Kripto

Rencana stablecoin Samsung juga tidak berdiri sendiri.

Pada Mei 2026, Samsung Securities, Samsung SDS, dan Samsung Card sepakat mengakuisisi total sekitar 4% saham Dunamu, operator bursa kripto Upbit di Korea Selatan, dengan nilai transaksi sekitar US$408 juta atau sekitar Rp6,6 triliun, menggunakan asumsi kurs Rp16.200 per dolar AS.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa strategi Samsung mulai bergerak lebih jauh dari sekadar menyediakan perangkat keras untuk ekosistem aset digital.

Samsung SDS sebelumnya juga menyebut investasi tersebut berkaitan dengan pengembangan infrastruktur pembayaran berbasis stablecoin dan teknologi kecerdasan buatan.

Artinya, perusahaan berpotensi membangun ekosistem yang mencakup perangkat, aplikasi pembayaran, infrastruktur teknologi, hingga layanan aset digital.

Persaingan dengan Xiaomi dan Apple

Samsung bukan produsen smartphone pertama yang mencoba membawa aset kripto lebih dekat ke perangkat seluler.

Xiaomi sebelumnya telah mengambil langkah dengan menggandeng pihak ketiga untuk menghadirkan dompet berbasis blockchain pada perangkat baru di sejumlah pasar. Perusahaan tersebut juga mengumumkan rencana menerima stablecoin di jaringan gerai ritelnya.

Namun, pendekatan Samsung memiliki perbedaan. Perusahaan tidak sekadar menempatkan aplikasi kripto tambahan di perangkat, melainkan berencana memasukkan saldo stablecoin ke dalam aplikasi yang sudah digunakan untuk kartu pembayaran, identitas, dan berbagai layanan digital.

Sementara itu, Apple belum mengumumkan layanan yang setara. Ekosistem Apple saat ini masih mengandalkan aplikasi pihak ketiga untuk penggunaan aset kripto, termasuk melalui mekanisme pendanaan di Apple Pay.

Jika Samsung berhasil menjalankan rencana tersebut, perusahaan berpotensi menjadi salah satu pemain teknologi besar yang menghubungkan stablecoin, pembayaran digital, dan perangkat smartphone dalam satu ekosistem.

Tantangan terbesarnya bukan lagi sekadar teknologi, melainkan regulasi, lisensi, perlindungan konsumen, dan kemitraan dengan lembaga keuangan di setiap negara tempat layanan tersebut akan diluncurkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Chainlink Ungkap Nilai Aset Dunia Nyata di Blockchain Tembus US$340 Miliar, Tokenisasi Diprediksi Melonjak Hingga US$4 Triliun

5 September 2026 - 10:26 WIB

Chainlink

Michael Saylor Tegaskan Warga Amerika Bebas Promosikan Bitcoin Tanpa Lisensi, Ini Alasannya

5 September 2026 - 10:17 WIB

Michael Saylor

AS Bentuk Satgas Quantum, Ancaman 7 Juta Bitcoin Rentan Serangan Komputer Kuantum Masuk Perhatian Departemen Keuangan

26 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Bitcoin

Bitcoin Tembus Rp1,1 Miliar, Analis Sebut Permintaan ETF Jadi Penentu

21 Agustus 2026 - 11:35 WIB

Nvidia Dikabarkan Siapkan Jaminan Rp4.000 Triliun untuk OpenAI, Analis Soroti Risiko Pembiayaan Sirkular

17 Agustus 2026 - 13:04 WIB

Nvidia
Trending di Teknologi