Menu

Mode Gelap
Toyota Celica Dikabarkan Bangkit Lagi, Siap Hadir dengan Mesin 400 HP dan Hybrid 500 HP Volkswagen Siapkan Restrukturisasi Besar, Hingga 50.000 Karyawan Berpotensi Kena PHK Chainlink Ungkap Nilai Aset Dunia Nyata di Blockchain Tembus US$340 Miliar, Tokenisasi Diprediksi Melonjak Hingga US$4 Triliun Michael Saylor Tegaskan Warga Amerika Bebas Promosikan Bitcoin Tanpa Lisensi, Ini Alasannya DMAS Raup Marketing Sales Rp1,15 Triliun di Semester I-2026, 75% Permintaan Lahan Industri Datang dari Data Center BEI Umumkan Saham SAFE Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, 98,14% Dikuasai Segelintir Pemegang Saham

Kripto

Michael Saylor Sebut Bitcoin sebagai Solusi Rekayasa untuk Menyimpan Nilai Ekonomi

badge-check


					Michael Saylor Perbesar

Michael Saylor

Executive Chairman Strategy Inc. (Nasdaq: MSTR), Michael Saylor, kembali memperkuat pandangannya terhadap Bitcoin. Pada 15 Agustus 2026, Saylor menggambarkan Bitcoin bukan sekadar aset kripto, melainkan sebuah solusi rekayasa untuk menyimpan dan memindahkan nilai ekonomi.

Dalam esainya berjudul What Is Money?, Saylor membandingkan Bitcoin dengan emas dan mata uang fiat. Menurutnya, uang pada dasarnya berfungsi menyimpan nilai yang dihasilkan dari tenaga kerja, kecerdasan, dan sumber daya alam agar nilai tersebut dapat dipindahkan melintasi waktu dan jarak.

Saylor merangkum pandangannya melalui unggahan di X:

“Untuk memahami Bitcoin, pertama-tama pahami uang. Uang adalah energi. Bitcoin adalah energi moneter digital.”

Menurut Saylor, emas selama berabad-abad menjalankan fungsi penyimpan nilai karena kelangkaannya secara fisik. Namun, aset tersebut memiliki biaya dalam hal transportasi, keamanan dan penyimpanan.

Sementara itu, uang fiat menawarkan kemudahan pemindahan yang lebih besar, tetapi daya belinya dan akses terhadap sistem tersebut dipengaruhi oleh pemerintah, bank sentral serta lembaga keuangan.

Proof-of-Work Jadi Fondasi Kelangkaan Digital

Salah satu bagian penting dari argumentasi Saylor adalah mekanisme proof-of-work (PoW) yang digunakan jaringan Bitcoin.

Dalam mekanisme tersebut, para penambang menggunakan daya komputasi dan energi listrik untuk mencari hash yang memenuhi tingkat kesulitan jaringan. Setelah sebuah blok berhasil ditemukan, node lain dapat memverifikasi bukti tersebut secara independen sebelum blok diterima.

Menurut kerangka pemikiran Saylor, kebutuhan terhadap sumber daya fisik tersebut menghubungkan kelangkaan digital Bitcoin dengan biaya nyata berupa komputasi dan energi.

Model tersebut juga membuat perubahan terhadap riwayat transaksi menjadi sangat mahal secara komputasi, tanpa membutuhkan otoritas pusat yang memiliki kewenangan untuk mengubah catatan transaksi.

Namun, kepemilikan Bitcoin secara langsung juga memiliki konsekuensi. Pemegang aset yang menguasai private key dapat mengotorisasi transaksi tanpa bantuan bank atau kustodian.

Di sisi lain, kehilangan atau terbukanya private key dapat menyebabkan akses terhadap Bitcoin hilang atau dikompromikan secara permanen. Artinya, semakin besar kendali langsung pemilik, semakin besar pula tanggung jawab keamanan yang harus ditanggung sendiri.

Strategy Terapkan Pandangan Saylor di Neraca Perusahaan

Pandangan Saylor terhadap Bitcoin bukan hanya berupa teori. Strategy, perusahaan yang dipimpinnya, telah menjadikan Bitcoin sebagai aset cadangan utama dalam struktur neracanya.

Berdasarkan catatan perusahaan per 10 Agustus 2026, Strategy memiliki sekitar 840.447 BTC dengan total biaya akuisisi sekitar US$63,36 miliar. Harga pembelian rata-rata tercatat sekitar US$75.385 per Bitcoin.

Pada saat itu, nilai cadangan Bitcoin perusahaan tercatat sekitar US$54,56 miliar. Neraca Strategy juga mencatat sekitar US$6,75 miliar utang, US$15,24 miliar saham preferen, dan sekitar US$4,65 miliar cadangan dolar AS.

Strategi tersebut belakangan tidak sepenuhnya berarti Bitcoin akan selalu disimpan tanpa dijual. Strategy telah melakukan sejumlah penjualan Bitcoin sebagai bagian dari manajemen modal perusahaan.

Catatan transaksi menunjukkan perusahaan menjual antara lain 1.363 BTC pada 30 Juni, 2.225 BTC pada 6 Juli, 1.638 BTC pada 3 Agustus, dan 1.690 BTC pada 10 Agustus 2026.

Bitcoin Dijual untuk Membiayai Saham Preferen

Laporan terbaru Strategy kepada regulator AS memperlihatkan bagaimana Bitcoin digunakan dalam strategi pendanaan perusahaan.

Dalam periode 3-9 Agustus, Strategy menjual 1.690 BTC dengan nilai sekitar US$108,6 juta. Dana bersih dari transaksi tersebut kemudian digunakan untuk membeli kembali sekitar 1.152.020 saham preferen STRC dengan nilai yang sama.

Strategy juga mempertahankan sekitar US$4,65 miliar cadangan dolar AS yang ditujukan untuk mendukung pembayaran dividen saham preferen dan kewajiban bunga.

Dengan demikian, Bitcoin dalam struktur Strategy tidak hanya berfungsi sebagai aset cadangan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi manajemen modal yang terhubung dengan instrumen pembiayaan perusahaan.

Bitcoin sebagai Lapisan Dasar Sistem Keuangan

Saylor tidak melihat Bitcoin harus menangani seluruh aktivitas pembayaran atau menggantikan semua fungsi perbankan.

Sebaliknya, ia membayangkan Bitcoin sebagai lapisan moneter dasar, sementara berbagai produk keuangan dapat dibangun di atasnya.

Dalam kerangka tersebut, institusi keuangan, bank, dana investasi, perusahaan asuransi hingga pasar kredit dapat menggunakan Bitcoin sebagai bentuk modal.

Lapisan dasar Bitcoin berfungsi mempertahankan kelangkaan aset digital dan integritas penyelesaian transaksi. Sementara itu, lapisan di atasnya dapat menyediakan kredit, pinjaman, produk pendapatan maupun layanan pembayaran yang lebih cepat.

Namun, struktur tersebut juga membawa kembali risiko seperti risiko penerbit, kustodian dan pihak lawan transaksi. Karena itu, karakteristik Bitcoin tidak otomatis berlaku pada seluruh produk keuangan yang dibangun di atasnya.

Dari Emas ke Fiat, Lalu Bitcoin

Pada akhirnya, Saylor melihat perkembangan uang sebagai sebuah proses rekayasa.

Emas merepresentasikan kelangkaan fisik, sementara uang fiat mengandalkan sistem kredit dan kepercayaan yang terkait dengan otoritas politik serta institusi keuangan.

Bitcoin, menurut Saylor, menawarkan bentuk kelangkaan digital yang dapat ditegakkan melalui teknologi.

Karena itu, tesis Saylor bukan semata-mata bahwa Bitcoin dapat menjadi alat pembayaran. Ia melihat aset tersebut sebagai infrastruktur moneter yang berpotensi menyimpan dan memindahkan nilai ekonomi melintasi waktu, wilayah geografis, serta berbagai lapisan sistem keuangan.

Pandangan tersebut sekaligus menjadi dasar dari strategi Strategy yang terus menempatkan Bitcoin sebagai komponen penting dalam pengelolaan neraca dan struktur permodalan perusahaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Chainlink Ungkap Nilai Aset Dunia Nyata di Blockchain Tembus US$340 Miliar, Tokenisasi Diprediksi Melonjak Hingga US$4 Triliun

5 September 2026 - 10:26 WIB

Chainlink

Michael Saylor Tegaskan Warga Amerika Bebas Promosikan Bitcoin Tanpa Lisensi, Ini Alasannya

5 September 2026 - 10:17 WIB

Michael Saylor

AS Bentuk Satgas Quantum, Ancaman 7 Juta Bitcoin Rentan Serangan Komputer Kuantum Masuk Perhatian Departemen Keuangan

26 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Bitcoin

Bitcoin Tembus Rp1,1 Miliar, Analis Sebut Permintaan ETF Jadi Penentu

21 Agustus 2026 - 11:35 WIB

Abu Dhabi Tetap Pegang Investasi Bitcoin US$764 Juta Meski Nilai Anjlok

16 Agustus 2026 - 10:25 WIB

Mubadala Investment Company dan Abu Dhabi Investment Council (ADIC)
Trending di Kripto