Pergerakan mayoritas pasar saham Asia dibuka di zona merah pada awal pekan. Tekanan terbesar datang dari aksi jual besar-besaran terhadap saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sehingga menutupi sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Indeks utama Korea Selatan, KOSPI, menjadi pasar dengan pelemahan terdalam setelah terjun sekitar 4,2 persen. Koreksi tajam ini terjadi hanya beberapa hari setelah indeks tersebut sempat mencatat lonjakan signifikan, sementara investor kembali melepas saham-saham teknologi berkapitalisasi besar.
Tekanan terbesar berasal dari dua raksasa semikonduktor, Samsung Electronics dan SK Hynix. Saham Samsung merosot sekitar 7,2 persen, meskipun perusahaan sebelumnya melaporkan lonjakan laba bisnis chip hingga lebih dari 250 kali lipat serta memperoleh kontrak pasokan jangka panjang dengan operator pusat data global.
Di sisi lain, saham SK Hynix juga terkoreksi sekitar 7 persen. Pelaku pasar memilih melakukan aksi ambil untung setelah menilai laporan keuangan perusahaan belum mampu melampaui ekspektasi tinggi yang telah dibangun sebelumnya.
Kedua perusahaan tersebut memiliki bobot lebih dari separuh kapitalisasi pasar KOSPI sehingga pelemahannya langsung menyeret indeks utama Korea Selatan.
Tidak hanya Korea Selatan, bursa Jepang juga ikut terkoreksi. Indeks Nikkei 225 turun sekitar 1,6 persen, sementara TOPIX kehilangan lebih dari 2 persen. Pelemahan dipicu aksi jual pada saham teknologi seperti Sony Group, Murata Manufacturing, dan Renesas Electronics.
Sementara itu, Bank of Japan pekan lalu memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi pasar. Kebijakan tersebut memperkuat pandangan bahwa normalisasi kebijakan moneter akan dilakukan secara bertahap sehingga tidak memberikan kejutan baru bagi investor.
Berbeda dengan Korea Selatan dan Jepang, pasar saham China menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Indeks CSI 300 turun sekitar 0,6 persen, sedangkan Shanghai Composite melemah 0,5 persen.
Di Hong Kong, indeks Hang Seng justru berhasil menguat sekitar 0,3 persen. Penguatan didorong melonjaknya saham Alibaba lebih dari 5 persen setelah perusahaan meluncurkan model AI terbaru. Saham Tencent juga naik lebih dari 2 persen, memberikan dukungan terhadap indeks.
Di kawasan Asia Tenggara, indeks Straits Times Index (STI) Singapura melemah sekitar 0,4 persen mengikuti sentimen negatif regional.
Sementara itu, pasar Australia menjadi salah satu yang mampu bertahan di zona hijau. Indeks S&P/ASX 200 naik sekitar 0,5 persen berkat penguatan sektor keuangan dan industri yang mampu mengimbangi pelemahan saham-saham energi.
Sektor energi sendiri berada di bawah tekanan setelah harga minyak dunia kembali turun. Penurunan harga minyak dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebutkan bahwa pembicaraan mengenai Selat Hormuz dengan Iran akan dimulai pada Senin.
Pernyataan tersebut memunculkan harapan baru terhadap solusi diplomatik yang dapat meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan energi global. Akibatnya, harga minyak Brent melanjutkan pelemahannya sehingga saham perusahaan energi seperti Woodside Energy, Santos, dan INPEX ikut terkoreksi.
Di sisi lain, sentimen positif masih datang dari Wall Street. Laporan keuangan yang kuat dari Microsoft dan Alphabet mendorong kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat menguat. Nasdaq 100 Futures naik sekitar 0,9 persen, sedangkan S&P 500 Futures bertambah sekitar 0,5 persen selama perdagangan Asia.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada sejumlah agenda ekonomi penting pekan ini. Investor akan mencermati keputusan suku bunga Reserve Bank of India (RBI), data perdagangan China periode Juli, laporan inflasi Korea Selatan, serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat (nonfarm payrolls) yang diperkirakan akan memberikan arah baru bagi pergerakan pasar global.











