JAKARTA – PT Berkah Beton Sadaya Tbk (BEBS) memberikan penjelasan resmi kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait kondisi operasional, perkembangan proyek, keterlambatan penyampaian laporan keuangan, hingga strategi menjaga kelangsungan usaha Perseroan.
Penjelasan tersebut disampaikan setelah BEI meminta klarifikasi atas aktivitas operasional Perseroan dan belum disampaikannya laporan keuangan sejak Laporan Keuangan Triwulan III Tahun 2024.
Perseroan menegaskan bahwa kegiatan operasional tetap berjalan dan tidak terdapat penghentian operasional, baik sebagian maupun seluruhnya.
“Sampai dengan tanggal surat ini, tidak terdapat penghentian kegiatan operasional secara sebagian maupun seluruhnya,” tulis manajemen BEBS dalam surat penjelasan kepada Bursa.
Operasional Masih Berjalan Meski Belum Optimal
Manajemen mengakui tingkat aktivitas usaha dan utilisasi fasilitas produksi masih berada di bawah kapasitas optimal dalam dua tahun terakhir. Meski demikian, Perseroan tetap menjalankan kegiatan usaha sesuai bidang usaha dan perizinan yang dimiliki.
Sumber pendapatan utama masih berasal dari proyek-proyek konstruksi dan penyediaan beton untuk pembangunan jalan, bendungan, pabrik, hingga proyek infrastruktur pemerintah.
Kantongi Belasan Proyek Berjalan Sepanjang 2026
BEBS mengungkapkan memiliki sedikitnya 14 proyek yang telah dan sedang berjalan sepanjang 2026. Sejumlah proyek tersebut berasal dari perusahaan konstruksi nasional, BUMN, hingga proyek pemerintah melalui dana desa.
Beberapa proyek utama antara lain:
- Pelebaran Jalan Tol Cipali bersama PT Acset Indonusa Tbk senilai Rp1,39 miliar.
- Rekonstruksi Jalan Tol bersama PT Astra Tol Nusantara senilai Rp4,52 miliar.
- Rehabilitasi Bendungan Salamdarma bersama PT Waskita Karya Tbk dan PT Nindya Karya.
- Pembangunan PLTU Indramayu bersama PT PLN Nusantara.
- Pembangunan pabrik, gudang Bulog, serta sejumlah proyek rekonstruksi jalan daerah.
Mayoritas proyek tersebut telah mencapai progres penyelesaian 80–100 persen.
Selain proyek berjalan, Perseroan juga memiliki pipeline proyek yang masih dalam tahap negosiasi dengan nilai miliaran rupiah. Salah satu proyek terbesar yang sedang dijajaki adalah rekonstruksi Jalan Kalijati–Sukamandi senilai sekitar Rp9,12 miliar.
Namun, manajemen menegaskan proyek-proyek pipeline tersebut belum seluruhnya dituangkan dalam perjanjian yang mengikat sehingga kontribusi pendapatannya belum dapat dipastikan.
Utilisasi Pabrik Masih Rendah
Perseroan juga mengungkapkan tingkat utilisasi batching plant masih jauh dari kapasitas maksimal.
Fasilitas produksi BEBS memiliki kapasitas mesin sebesar 90 meter kubik per jam atau sekitar 720 meter kubik per hari. Dengan asumsi operasional 25 hari kerja per bulan, kapasitas maksimal mencapai 18.000 meter kubik per bulan.
Namun, rata-rata produksi bulanan saat ini hanya sekitar 2.444 meter kubik, sehingga utilisasi pabrik berada di level 13,58 persen. Produksi tertinggi yang pernah dicapai mencapai 3.100 meter kubik per bulan atau setara utilisasi 17,22 persen.
Menurut Perseroan, rendahnya utilisasi dipengaruhi oleh belum optimalnya realisasi proyek dan volume permintaan yang masih terbatas.
Strategi Tingkatkan Kinerja
Dalam penjelasannya kepada BEI, BEBS memaparkan rencana strategis dalam tiga tahap.
Pada jangka pendek (0–3 bulan), fokus Perseroan adalah menyelesaikan laporan keuangan, mengoptimalkan arus kas dan modal kerja, meningkatkan utilisasi fasilitas produksi, mempercepat penagihan piutang, serta melakukan efisiensi biaya operasional.
Selanjutnya pada jangka menengah (3–12 bulan), Perseroan menargetkan peningkatan realisasi proyek, pengembangan kemitraan strategis, optimalisasi sumber pendanaan, dan peningkatan utilisasi produksi.
Sementara dalam jangka panjang, BEBS berencana melakukan diversifikasi usaha, memperkuat struktur permodalan, serta mendorong pertumbuhan bisnis dan profitabilitas yang berkelanjutan.
Laporan Keuangan Masih Dalam Proses Restatement
Salah satu sorotan utama BEI adalah keterlambatan penyampaian laporan keuangan Perseroan sejak Triwulan III Tahun 2024.
BEBS menjelaskan keterlambatan tersebut terjadi karena Perseroan harus melakukan penelaahan, rekonsiliasi, dan koreksi atas pencatatan akuntansi pada periode sebelumnya. Proses tersebut mengharuskan adanya penyajian kembali (restatement) laporan keuangan yang terdampak sebelum diaudit.
Saat ini Perseroan masih mengumpulkan data keuangan, menyiapkan dokumen pendukung, serta berkomunikasi dengan beberapa Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk pelaksanaan audit.
Perseroan menargetkan proses penunjukan KAP selesai pada akhir 2026, sedangkan penyampaian laporan keuangan yang tertunda direncanakan mulai dilakukan secara bertahap pada Kuartal I 2027.
Manajemen menekankan target tersebut masih berupa estimasi karena bergantung pada proses audit dan penyelesaian restatement.
Pendapatan 2025 Turun, Laba Bersih Masih Positif
Berdasarkan data internal atau management accounts yang masih dalam proses penelaahan, kinerja Perseroan mengalami penurunan pada 2025 dibandingkan 2024.
Pendapatan turun dari Rp43,51 miliar pada 2024 menjadi Rp27,98 miliar pada 2025. Penurunan pendapatan diikuti penurunan laba bruto dari Rp20,98 miliar menjadi Rp8,41 miliar, sedangkan EBITDA turun dari Rp14,39 miliar menjadi Rp2,30 miliar.
Meski demikian, Perseroan menyebut masih membukukan laba bersih sebesar Rp4,54 miliar pada 2025, lebih tinggi dibanding laba bersih 2024 sebesar Rp2,84 miliar.
Dari sisi likuiditas, kas dan setara kas turun dari Rp5,33 miliar menjadi Rp4,49 miliar, sementara liabilitas jangka pendek meningkat dari Rp56,05 miliar menjadi Rp58,40 miliar.
Perseroan menjelaskan perbedaan antara penurunan EBITDA dan kenaikan laba bersih masih dipengaruhi komponen pendapatan maupun beban di luar kegiatan operasional yang saat ini masih dalam proses penelaahan dan berpotensi mengalami penyesuaian dalam audit.
Belum Ada Aksi Korporasi
Menjawab pertanyaan Bursa mengenai rencana aksi korporasi, BEBS menyatakan hingga saat ini belum terdapat aksi korporasi yang telah diputuskan atau ditetapkan oleh organ Perseroan untuk tiga bulan ke depan.
Perseroan juga menegaskan, berdasarkan hasil penelaahan internal, tidak terdapat informasi atau kejadian material lain yang belum diungkapkan kepada publik dan dapat memengaruhi kelangsungan usaha maupun harga saham Perseroan.












