Menu ✖

Mode Gelap
Komisaris AKPI Henry Liem Kurangi Kepemilikan 250 Ribu Saham RANS Entertainment (RANS) Klarifikasi Isu Pengerahan Warga Berbayar di RANS Carnival Yogyakarta Indo Boga Sukses (IBOS) Buka Flagship Segafredo Caffè di Sleman, Grand Opening 7 November BEI Pertahankan Suspensi Saham MENN dan SOUL, Belum Sampaikan Laporan Keuangan Semester I-2026 Sandiaga Uno Borong 915.000 Saham MUTU, Kini Kantongi 9,51 Juta Saham Laba Bersih CBDK Melonjak 39% Jadi Rp1,82 Triliun hingga September 2026

Bisnis

KIJA Rugi Bersih Rp6,4 Miliar di Semester I-2026, Pendapatan Infrastruktur Melonjak 15%

badge-check


					PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (IDX: KIJA) Perbesar

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (IDX: KIJA)

JAKARTA – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (IDX: KIJA) membukukan kinerja yang beragam pada Semester I-2026. Perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar, berbalik dari laba bersih Rp627,6 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Namun, di balik penurunan tersebut, bisnis operasional perusahaan tetap menghasilkan laba dan ditopang oleh pertumbuhan kuat pada pilar infrastruktur.

Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian hingga 30 Juni 2026, KIJA membukukan pendapatan sebesar Rp2,44 triliun, turun 11% dibandingkan Semester I-2025 yang mencapai Rp2,73 triliun.

Manajemen menjelaskan bahwa rugi bersih bukan disebabkan oleh melemahnya operasional bisnis, melainkan akibat beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) terkait proses refinancing Senior Notes berdenominasi dolar AS menjadi pinjaman bank dalam mata uang rupiah.

Biaya tersebut meliputi rugi selisih kurs, penghentian instrumen lindung nilai (hedging), serta percepatan amortisasi Senior Notes yang sebelumnya dijadwalkan jatuh tempo pada 2027.

Langkah refinancing ini dilakukan sebagai strategi memperkuat struktur permodalan perusahaan melalui fasilitas pinjaman baru dengan tenor hingga 15 tahun. Selain memperpanjang profil jatuh tempo utang, strategi tersebut juga bertujuan mengurangi risiko nilai tukar dan meningkatkan fleksibilitas keuangan di tengah kondisi pasar yang dinamis.

Di luar dampak biaya refinancing tersebut, KIJA masih membukukan laba operasional sebesar Rp524 miliar, meski turun dibandingkan Rp822,8 miliar pada Semester I-2025. Penurunan laba operasi terutama dipengaruhi lebih rendahnya pengakuan pendapatan dari penjualan lahan industri di Kendal akibat perbedaan waktu pencatatan pendapatan.

Sementara itu, pilar Infrastruktur menjadi motor pertumbuhan utama Perseroan. Pendapatan segmen ini meningkat 15% menjadi Rp1,40 triliun dari Rp1,22 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Kontribusinya terhadap total pendapatan konsolidasian juga meningkat menjadi 57%, naik dari 45% pada Semester I-2025.

Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya konsumsi listrik tenant di kawasan Kendal dan Cikarang, pertumbuhan layanan air bersih, pengolahan limbah, pengelolaan kawasan, hingga peningkatan aktivitas logistik melalui Cikarang Dry Port (CDP).

Pendapatan segmen listrik naik menjadi Rp921,6 miliar, sedangkan bisnis jasa dan pemeliharaan melonjak 39% menjadi Rp347,2 miliar. Di sisi lain, pendapatan CDP meningkat menjadi Rp129,4 miliar, didukung kenaikan volume peti kemas sebesar 13% secara tahunan.

Sebaliknya, pendapatan dari Pilar Pengembangan Lahan dan Properti turun 32% menjadi Rp974,9 miliar. Penurunan terutama berasal dari lebih rendahnya pengakuan pendapatan penjualan lahan industri yang tercatat sebesar Rp783,7 miliar.

Meski demikian, penjualan bangunan pabrik siap pakai meningkat signifikan menjadi Rp94,3 miliar dari Rp18,3 miliar pada tahun sebelumnya. Penjualan lahan dan rumah hunian juga tumbuh menjadi Rp33,7 miliar, mencerminkan permintaan yang tetap solid pada sektor properti industri maupun residensial.

Sementara itu, pilar Leisure & Hospitality mencatat pendapatan yang relatif stabil sebesar Rp63,4 miliar, dengan bisnis golf masih menjadi kontributor utama sekitar 65% dari total pendapatan segmen tersebut.

Dari sisi pemasaran, KIJA membukukan marketing sales sebesar Rp1,19 triliun, atau setara 32% dari target marketing sales tahun 2026 sebesar Rp3,75 triliun.

Ke depan, Perseroan optimistis strategi memperbesar kontribusi pendapatan berulang melalui bisnis infrastruktur akan memperkuat ketahanan kinerja perusahaan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan dari penjualan lahan industri yang bersifat siklus.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Laba Bersih CBDK Melonjak 39% Jadi Rp1,82 Triliun hingga September 2026

30 Oktober 2026 - 08:24 WIB

PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK)

Avian Brands Catat Penjualan Rp6,9 Triliun hingga September 2026, Tumbuh 16,7%

30 Oktober 2026 - 08:14 WIB

PT Avia Avian Tbk (Avian Brands)

BSDE Jual Lahan 16,6 Hektare di BSD City untuk Kembangkan Ekosistem KEK ETKI

29 Oktober 2026 - 08:14 WIB

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BEI: BSDE)

Sarana Menara Nusantara (TOWR) Perpanjang Fasilitas Kredit Rp2 Triliun hingga Oktober 2027

29 Oktober 2026 - 08:13 WIB

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR)

Kredit BCA Tembus Rp1.063 Triliun, Laba Bersih Naik 4,2% Jadi Rp45,2 Triliun

28 Oktober 2026 - 08:20 WIB

BCA
Trending di Bisnis