JAKARTA – PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) menegaskan komitmennya untuk memperkuat pertumbuhan bisnis sepanjang 2026 melalui peningkatan efisiensi operasional, pengembangan pasar Business-to-Business (B2B), serta optimalisasi peluang dari meningkatnya konsumsi protein hewani di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan manajemen dalam Public Expose Tahunan Perseroan yang digelar secara hybrid pada Kamis (30/7/2026). Acara tersebut dihadiri jajaran manajemen, investor, dan media, dengan agenda membahas kinerja keuangan, prospek usaha, target bisnis, hingga tantangan industri yang dihadapi.
Dalam paparannya, Perseroan menyampaikan bahwa belanja modal (capital expenditure/CAPEX) tahun 2026 masih akan disesuaikan dengan perkembangan bisnis dan kondisi pasar. Investasi akan dilakukan secara selektif dengan prioritas pada peningkatan kapasitas produksi, efisiensi operasional, serta penguatan bisnis inti.
Selain itu, JPS terus memperkuat strategi komersial melalui program Janu Meet & Connect (JMC) sebagai sarana membangun kemitraan dengan pelanggan maupun institusi. Program ini diharapkan mampu memperluas pasar B2B sekaligus menciptakan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.
Perluas Segmen Pasar
Untuk mencapai target tahun 2026, Perseroan menargetkan penguatan bisnis terintegrasi melalui peningkatan penjualan B2B dan perluasan pasar ke berbagai segmen, antara lain Food Service & HORECA, Corporate & Institutional Market, Modern Trade, serta jaringan distributor.
Di sisi lain, manajemen juga melihat adanya peluang pertumbuhan konsumsi protein hewani melalui implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah.
Perseroan menyatakan masih mempelajari berbagai peluang kerja sama sesuai kapasitas produksi serta kebutuhan pasar. Keikutsertaan dalam program tersebut akan mengikuti mekanisme dan ketentuan yang ditetapkan pemerintah.
Fokus Tingkatkan Profitabilitas
Meski belum memberikan target angka pendapatan maupun laba bersih secara spesifik untuk tahun 2026, JPS menegaskan fokus utama perusahaan adalah meningkatkan profitabilitas melalui efisiensi operasional, optimalisasi bisnis terintegrasi, serta penguatan pasar B2B.
Strategi tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan pendapatan sekaligus menjaga kinerja keuangan di tengah dinamika industri.
Tantangan Industri Masih Membayangi
Manajemen mengakui industri perunggasan masih menghadapi sejumlah tantangan sepanjang 2026. Beberapa di antaranya adalah fluktuasi harga live bird, volatilitas harga bahan baku pakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap bahan baku impor, hingga persaingan industri yang semakin ketat.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Perseroan menerapkan berbagai langkah strategis, mulai dari peningkatan efisiensi operasional, memperkuat penjualan B2B, hingga melakukan diversifikasi pelanggan.
Prospek Bisnis Tetap Positif
Di tengah berbagai tantangan tersebut, JPS tetap optimistis terhadap prospek industri perunggasan nasional. Perseroan menilai konsumsi protein hewani di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar.
Ke depan, perusahaan akan terus memperkuat bisnis terintegrasi, memperluas pasar B2B, mengembangkan segmen Food Service & HORECA, Corporate & Institutional Market, Modern Trade, serta distributor. Program edukasi melalui Janu Meet & Connect juga akan terus dijalankan untuk mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Manajemen menegaskan komitmennya untuk menjalankan bisnis secara sehat, efisien, dan berkelanjutan guna menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan.












