JAKARTA – PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC) mengumumkan rencana penghentian operasional PT Megalestari Epack Sentosaraya (MES), unit usaha yang mengoperasikan produksi kemasan fleksibel berbasis sistem cetak rotogravure. Langkah strategis ini akan dilakukan paling lambat pada 31 Desember 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan kinerja keuangan Perseroan.
Dalam keterbukaan informasi, EPAC menjelaskan bahwa kelompok usaha saat ini memiliki dua lini bisnis utama di industri kemasan fleksibel. MES menjalankan produksi kemasan fleksibel konvensional menggunakan teknologi rotogravure printing, sedangkan PT Epac Flexibles Indonesia (EFI) mengembangkan bisnis kemasan fleksibel berbasis digital printing.
Keberadaan dua fasilitas produksi tersebut selama ini memberikan fleksibilitas kepada EPAC dalam melayani berbagai kebutuhan pelanggan, baik dari sisi jumlah pesanan maupun variasi harga.
Namun, berdasarkan evaluasi manajemen, operasional MES justru menjadi beban terhadap kinerja konsolidasi Perseroan.
Operasional MES Dinilai Menekan Kinerja EPAC
MES memproduksi kemasan fleksibel melalui proses yang dimulai dari konversi bijih plastik, proses blowing, hingga menghasilkan produk akhir berupa kantong atau pouch. Selain memproduksi kemasan untuk berbagai merek FMCG, MES juga melayani produksi kantong polos.
Meski demikian, kontribusi keuangan MES dinilai tidak lagi optimal dibandingkan lini bisnis digital printing yang dijalankan EFI.
Perseroan melakukan simulasi atau proforma terhadap laporan keuangan tahun buku 2025 dan semester I 2026 dengan asumsi operasional MES telah dihentikan sejak awal tahun.
Hasil simulasi tersebut menunjukkan peningkatan signifikan terhadap profitabilitas EPAC secara konsolidasi.
Rugi Bersih Berpotensi Berubah Menjadi Laba
Berdasarkan proforma kinerja hingga kuartal II 2026, penghentian operasional MES diperkirakan memberikan sejumlah perbaikan terhadap kinerja Perseroan.
Beberapa dampak yang diproyeksikan antara lain:
- Rugi bersih sekitar Rp2,8 miliar berubah menjadi laba bersih sekitar Rp1,7 miliar.
- Perseroan berpotensi membukukan earning per share (EPS) sebesar Rp0,51 pada kuartal II 2026.
- Dengan harga penutupan saham EPAC pada 30 Juni 2026 sebesar Rp69 per saham, rasio price to earnings ratio (PER) diproyeksikan berada di kisaran 135,29 kali.
Menurut manajemen, proforma tersebut menunjukkan bahwa penghentian MES berpotensi meningkatkan hasil usaha EPAC secara substansial.
Fokus pada Bisnis Kemasan Digital Printing
EPAC menyatakan penghentian operasional MES merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat bisnis kemasan fleksibel berbasis digital printing melalui PT Epac Flexibles Indonesia.
Teknologi digital printing dinilai memberikan fleksibilitas lebih tinggi dalam melayani kebutuhan pelanggan dengan volume produksi yang lebih beragam serta efisiensi operasional yang lebih baik.
Perseroan berharap fokus pada lini bisnis tersebut dapat memperbaiki struktur biaya sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan di industri kemasan fleksibel.
Target Selesai Paling Lambat 31 Desember 2026
Rencana penghentian operasional MES akan dilaksanakan secara bertahap dan ditargetkan selesai paling lambat pada Kamis, 31 Desember 2026.
EPAC meyakini langkah restrukturisasi operasional ini akan menjadi fondasi bagi peningkatan kinerja keuangan dan profitabilitas perusahaan pada tahun-tahun mendatang, seiring fokus bisnis yang lebih terarah pada segmen kemasan fleksibel berbasis teknologi digital.












