Menu

Mode Gelap
Toyota Celica Dikabarkan Bangkit Lagi, Siap Hadir dengan Mesin 400 HP dan Hybrid 500 HP Volkswagen Siapkan Restrukturisasi Besar, Hingga 50.000 Karyawan Berpotensi Kena PHK Chainlink Ungkap Nilai Aset Dunia Nyata di Blockchain Tembus US$340 Miliar, Tokenisasi Diprediksi Melonjak Hingga US$4 Triliun Michael Saylor Tegaskan Warga Amerika Bebas Promosikan Bitcoin Tanpa Lisensi, Ini Alasannya DMAS Raup Marketing Sales Rp1,15 Triliun di Semester I-2026, 75% Permintaan Lahan Industri Datang dari Data Center BEI Umumkan Saham SAFE Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, 98,14% Dikuasai Segelintir Pemegang Saham

Uncategorized

Coldcard Tahan Penghapusan Data Pengguna, Bayang-Bayang Gugatan Muncul Usai Bitcoin Rp2 Triliun Raib

badge-check


					coldcard Perbesar

coldcard

JAKARTA – Coinkite, perusahaan asal Kanada di balik hardware wallet Bitcoin Coldcard, menghentikan sementara kebijakan penghapusan otomatis data pelanggan. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul kewajiban hukum terkait insiden keamanan yang menyebabkan lebih dari US$130 juta atau sekitar Rp2,1 triliun Bitcoin terkuras dari dompet yang terdampak.

Keputusan ini menjadi perubahan penting bagi Coinkite. Perusahaan selama ini dikenal mengedepankan privasi, minim pengumpulan data, serta konsep self-custody yang memungkinkan pengguna menyimpan aset kripto tanpa menyerahkan kendali kepada pihak ketiga.

Dalam pengumuman blog pada 6 Agustus 2026, Coinkite mengatakan penghentian penghapusan data dilakukan untuk memenuhi kewajiban hukum dan mempertahankan informasi yang kemungkinan diperlukan dalam proses hukum yang sedang berlangsung maupun yang diperkirakan akan muncul.

Kebijakan Penghapusan Data Berubah

Sebelumnya, Coinkite memiliki kebijakan untuk mengosongkan sebagian besar informasi pelanggan setelah 120 hari. Setelah periode tersebut, data yang dipertahankan pada dasarnya hanya berupa alamat email dan negara tempat tinggal.

Pengguna juga sebelumnya dapat meminta penghapusan data lebih cepat setelah perangkat Coldcard diterima.

Kini, jadwal tersebut dihentikan sementara. Data yang seharusnya dihapus berdasarkan kebijakan lama akan tetap disimpan hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.

Coinkite menjelaskan bahwa kewajiban menyimpan catatan yang relevan dengan proses hukum dapat mengesampingkan jadwal penghapusan data internal perusahaan.

Meski demikian, perusahaan menyediakan pilihan bagi pengguna yang tetap ingin menerapkan kebijakan privasi sebelumnya. Mereka dapat menghubungi dukungan Coinkite untuk meminta pengecualian dari kebijakan penyimpanan data tersebut.

Data yang dipertahankan, menurut perusahaan, akan diamankan, hanya dapat diakses oleh pihak yang berwenang dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hukum. Coinkite juga berjanji akan kembali menerapkan kebijakan penghapusan normal setelah secara hukum diperbolehkan.

Sinyal Penting dari Frasa “Anticipated Legal Proceedings”

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah penggunaan istilah “anticipated legal proceedings” atau proses hukum yang diperkirakan akan terjadi.

Coinkite memang belum menyebut adanya gugatan tertentu, nama penggugat, ataupun perkara yang sudah didaftarkan ke pengadilan. Namun, keputusan mempertahankan data pelanggan menunjukkan perusahaan sedang mempersiapkan kemungkinan kebutuhan pembuktian dalam proses hukum.

Dalam praktik hukum, langkah seperti ini dikenal sebagai legal hold, yakni tindakan untuk menghentikan penghapusan informasi yang berpotensi relevan dengan perkara.

Bagi perusahaan yang membangun reputasi melalui privasi, keputusan tersebut menciptakan dilema tersendiri.

Coldcard selama ini menawarkan pendekatan yang berupaya mengurangi ketergantungan pengguna terhadap pihak ketiga. Produk tersebut dikenal dengan konsep perangkat yang dapat digunakan secara offline, firmware yang berfokus pada Bitcoin, serta kebijakan pengumpulan data yang relatif terbatas.

Kini, perusahaan justru harus mempertahankan sebagian data pelanggan akibat insiden keamanan yang berkaitan dengan produknya.

Berawal dari Celah Firmware

Perubahan kebijakan privasi tersebut merupakan dampak lanjutan dari masalah keamanan serius yang ditemukan pada firmware Coldcard.

Sebuah celah pada firmware yang diperkenalkan dalam pembaruan sejak Maret 2021 membuat perangkat tertentu menghasilkan seed pemulihan dengan tingkat entropi yang lebih rendah dari seharusnya.

Pada sejumlah model yang lebih baru, kelemahan tersebut diperkirakan menghasilkan sekitar 72 bit entropi, jauh di bawah tingkat 128 bit yang diharapkan. Model Coldcard Mk2 dan Mk3 yang terdampak bahkan menghadapi kondisi yang lebih lemah.

Masalah tersebut berbahaya karena memungkinkan kunci privat tertentu direkonstruksi secara offline tanpa harus mendapatkan akses fisik ke perangkat pengguna.

Pada 30 Juli 2026, pihak yang tidak bertanggung jawab mulai memindahkan Bitcoin dari alamat yang diduga terkait dengan seed yang lemah tersebut.

Galaxy Research memperkirakan sedikitnya 15 kelompok penyerang terlibat dalam aksi tersebut. Kerugian diperkirakan telah mendekati US$130 juta, atau sekitar Rp2,1 triliun, yang tersebar di lebih dari 7.700 alamat Bitcoin.

Yang membuat kasus ini semakin serius, banyak Bitcoin yang dicuri berasal dari dompet yang telah lama tidak aktif. Sebagian besar aset disebut telah tersimpan selama sekitar tiga tahun.

Artinya, korban bukan semata-mata pengguna aktif yang terus melakukan transaksi, tetapi juga pemilik Bitcoin jangka panjang yang mengandalkan cold storage untuk menjaga aset mereka.

Coinkite Sudah Merilis Firmware Darurat

Coinkite telah mengeluarkan firmware darurat untuk seluruh model yang terdampak. Perusahaan juga menyatakan telah memusnahkan persediaan perangkat yang masih memiliki kerentanan tersebut.

CEO Coinkite, Rodolfo Novak, sebelumnya mengakui bahwa perusahaan tidak mengetahui keberadaan celah tersebut hingga para peneliti keamanan menemukannya.

Namun, terdapat satu hal penting yang perlu diperhatikan pengguna: memperbarui firmware tidak otomatis memperbaiki seed yang sudah dibuat menggunakan firmware rentan.

Dengan kata lain, pengguna yang sebelumnya telah membuat seed bermasalah tidak cukup hanya melakukan pembaruan perangkat lunak.

Apa yang Harus Dilakukan Pengguna Coldcard?

Pengguna yang merasa berpotensi terdampak perlu mempertimbangkan migrasi aset ke seed baru yang dibuat menggunakan perangkat dengan firmware yang telah diperbaiki.

Langkah ini terutama relevan bagi pengguna yang membuat seed single-signature pada firmware terdampak tanpa menggunakan sumber entropi tambahan yang memadai atau passphrase BIP-39 yang kuat dan unik.

Migrasi juga perlu dilakukan dengan hati-hati. Pengguna sebaiknya memastikan seluruh cadangan seed baru telah diverifikasi sebelum memindahkan dana dalam jumlah besar.

Melakukan transaksi percobaan dengan nominal kecil juga dapat menjadi langkah pengamanan sebelum seluruh saldo dipindahkan.

Coinkite menyatakan bahwa seed yang dibuat dengan sedikitnya 50 lemparan dadu privat yang independen, atau dilindungi dengan passphrase yang kuat, memiliki risiko minimal terhadap kerentanan spesifik ini.

Bukan Sekadar Masalah Firmware

Kasus Coldcard memperlihatkan bahwa kegagalan hardware wallet tidak berhenti ketika celah perangkat lunak telah ditambal.

Kerugian finansial yang mencapai puluhan hingga ratusan juta dolar merupakan dampak paling terlihat. Namun, persoalan hukum dan reputasi berpotensi menjadi konsekuensi yang jauh lebih panjang.

Bagi Coinkite, mempertahankan data pelanggan kemungkinan merupakan langkah yang diperlukan untuk memenuhi kewajiban hukum apabila proses hukum benar-benar bergulir.

Di sisi lain, keputusan tersebut menghadirkan paradoks bagi perusahaan yang selama ini menjadikan privasi sebagai salah satu nilai utama produknya.

Coldcard dibangun dengan gagasan bahwa pengguna seharusnya memiliki kendali penuh atas Bitcoin mereka. Namun kini, akibat insiden keamanan, perusahaan harus menyimpan informasi pelanggan yang sebelumnya justru dirancang untuk dihapus.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana proses hukum akan berkembang dan apakah produsen hardware wallet akan menghadapi tanggung jawab atas kerugian pengguna yang merasa telah mengikuti prosedur keamanan dengan benar.

Kasus ini menunjukkan satu hal penting dalam ekosistem self-custody: menghilangkan pihak ketiga dari penyimpanan aset tidak serta-merta menghilangkan risiko. Ketika sebuah perangkat menjadi titik kegagalan, dampaknya dapat merembet dari keamanan teknis ke persoalan finansial, privasi, hingga hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Chainlink Ungkap Nilai Aset Dunia Nyata di Blockchain Tembus US$340 Miliar, Tokenisasi Diprediksi Melonjak Hingga US$4 Triliun

5 September 2026 - 10:26 WIB

Chainlink

Michael Saylor Tegaskan Warga Amerika Bebas Promosikan Bitcoin Tanpa Lisensi, Ini Alasannya

5 September 2026 - 10:17 WIB

Michael Saylor

AS Bentuk Satgas Quantum, Ancaman 7 Juta Bitcoin Rentan Serangan Komputer Kuantum Masuk Perhatian Departemen Keuangan

26 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Bitcoin

Bitcoin Tembus Rp1,1 Miliar, Analis Sebut Permintaan ETF Jadi Penentu

21 Agustus 2026 - 11:35 WIB

Michael Saylor Sebut Bitcoin sebagai Solusi Rekayasa untuk Menyimpan Nilai Ekonomi

16 Agustus 2026 - 13:37 WIB

Michael Saylor
Trending di Kripto