PT Charnic Capital Tbk (NICK) memberikan penjelasan lanjutan kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait sejumlah pertanyaan mengenai laporan arus kas perusahaan.
Penjelasan tersebut disampaikan melalui surat bernomor 061/CC/X/2026 sebagai tanggapan atas surat BEI nomor S-12661/BEI.PP2/10-2026 tertanggal 2 Oktober 2026 perihal permintaan penjelasan lanjutan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pencatatan penerimaan dari pelanggan yang bernilai negatif sekitar Rp2,03 miliar per 30 Juni 2026. Kondisi tersebut berbeda dengan periode Juni 2025, ketika penerimaan dari pelanggan masih tercatat positif sebesar Rp344,2 juta.
Manajemen Charnic Capital menjelaskan, angka tersebut berkaitan dengan penggunaan direct method dalam penyusunan laporan arus kas serta adanya perubahan cakupan konsolidasi entitas anak.
“Dikarenakan adanya konsolidasi entitas anak yang bertambah dibandingkan dengan periode Juni 2025, maka perhitungan penerimaan pelanggan mencatatkan nilai negative,” jelas perseroan dalam surat tanggapannya.
Piutang dan Pajak Dibayar di Muka Jadi Faktor Utama
Berdasarkan rincian yang disampaikan perseroan, penerimaan dari pelanggan tidak hanya berasal dari pendapatan yang diterima secara langsung. Perhitungannya juga memperhitungkan sejumlah perubahan akun neraca yang berkaitan dengan transaksi pelanggan.
Per 30 Juni 2026, pendapatan sewa tercatat sebesar Rp2,97 miliar, sedangkan penjualan barang dan servis mencapai Rp14,11 miliar.
Namun, angka positif tersebut tertekan oleh sejumlah perubahan akun. Perubahan nilai piutang tercatat negatif Rp14,19 miliar, sementara perubahan pajak dibayar di muka mencapai negatif Rp2,79 miliar.
Selain itu, perubahan uang muka tercatat negatif Rp1,39 miliar, sedangkan perubahan utang mencapai negatif Rp1,33 miliar. Di sisi lain, perubahan nilai jaminan sewa memberikan kontribusi positif sebesar Rp583,13 juta.
Jika seluruh komponen tersebut diperhitungkan, total penerimaan dari pelanggan yang dilaporkan perseroan menjadi negatif Rp2,03 miliar.
Dengan demikian, angka negatif tersebut tidak semata-mata menunjukkan tidak adanya pendapatan dari pelanggan. Perbedaan antara pendapatan dan arus kas yang diterima juga dipengaruhi perubahan piutang, uang muka, pajak dibayar di muka, utang, serta jaminan sewa dalam proses konsolidasi laporan keuangan.
Konsolidasi Dua Entitas Anak
Selain penerimaan dari pelanggan, BEI juga meminta penjelasan mengenai kenaikan pembayaran kepada pemasok yang sebelumnya dikaitkan dengan peningkatan aset tetap setelah konsolidasi laporan keuangan dengan entitas anak.
Menjawab pertanyaan tersebut, Charnic Capital menyebut terdapat dua entitas anak yang dikonsolidasikan dalam laporan keuangannya.
Perseroan menjelaskan bahwa kenaikan aset yang memengaruhi pembayaran kepada pemasok berasal dari aktivitas pembayaran pemasok oleh PT Energindo Nusantara. Sementara itu, kenaikan aset yang masuk dalam arus kas aktivitas investasi berasal dari pembelian aset kendaraan oleh PT Okansa Pacific.
“Hal ini dikarenakan adanya konsolidasi 2 entitas anak,” tulis manajemen Charnic Capital dalam surat tersebut.
Penjelasan itu sekaligus menjadi dasar perseroan dalam membedakan transaksi yang tercermin dalam arus kas aktivitas operasional dengan transaksi yang dicatat sebagai arus kas aktivitas investasi.
Jawaban atas Permintaan Penjelasan BEI
Surat bertanggal 5 Oktober 2026 tersebut ditandatangani oleh Anton Santoso selaku Direktur Utama PT Charnic Capital Tbk.
Melalui surat tersebut, perseroan menyampaikan tanggapan atas permintaan penjelasan BEI mengenai metode penyusunan laporan arus kas, komponen penerimaan dari pelanggan, serta dampak konsolidasi entitas anak terhadap pembayaran kepada pemasok dan aset.
Penjelasan ini menjadi bagian dari keterbukaan informasi perseroan dalam merespons permintaan penjelasan dari otoritas pasar modal.












