Pasar saham Asia membuka perdagangan awal pekan dengan pergerakan terbatas pada Senin (24/8/2026), di tengah sikap hati-hati investor yang menunggu pengumuman sanksi baru Amerika Serikat terhadap Iran. Di saat yang sama, perhatian pelaku pasar global juga tertuju pada laporan keuangan Nvidia yang dijadwalkan rilis pekan ini serta pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, prospek suku bunga AS, hingga memanasnya perang dagang dengan Kanada menjadi faktor utama yang membayangi sentimen pasar global.
Investor Menunggu Detail Sanksi AS terhadap Iran
Dilansir dari Reuters, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin waktu setempat untuk mengumumkan rincian paket sanksi terbaru terhadap Iran.
Langkah tersebut diambil setelah Iran dinilai belum menunjukkan tanda-tanda mengendurkan kendali atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Menjelang pengumuman tersebut, harga minyak sempat terkoreksi setelah reli tajam pekan lalu.
- Minyak Brent turun sekitar 1% menjadi US$93,43 per barel.
- Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar 1,1% ke US$86,14 per barel.
Meski terkoreksi, harga minyak masih mencatat kenaikan sekitar 6,6% sepanjang pekan sebelumnya akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Bursa Asia Cenderung Lesu
Perdagangan di kawasan Asia berlangsung relatif tenang dengan mayoritas indeks bergerak di zona merah tipis.
Sementara itu, kontrak berjangka indeks saham Eropa seperti EURO STOXX 50, DAX Jerman, dan FTSE Inggris bergerak hampir tidak berubah. Futures S&P 500 dan Nasdaq di Wall Street juga sedikit melemah menjelang pembukaan perdagangan.
Nvidia Jadi Penentu Arah Saham Teknologi Global
Fokus terbesar pasar pekan ini tertuju pada laporan keuangan Nvidia yang akan diumumkan pada Rabu (26/8/2026).
Perusahaan produsen chip kecerdasan buatan (AI) tersebut kembali menghadapi ekspektasi yang sangat tinggi setelah menjadi motor utama reli saham teknologi sepanjang dua tahun terakhir.
Analis memperkirakan:
- Pendapatan kuartalan Nvidia hampir dua kali lipat menjadi sekitar US$92 miliar.
- Proyeksi pendapatan setahun penuh diperkirakan berada di kisaran US$103–105 miliar.
Besarnya ekspektasi membuat investor menilai hasil Nvidia akan menjadi katalis penting bagi sektor teknologi global, khususnya perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang AI dan semikonduktor.
Pasar Menunggu Petunjuk Suku Bunga dari Ketua The Fed
Selain Nvidia, investor juga menantikan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026).
Pasar berharap Warsh memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS setelah inflasi masih berada di atas target bank sentral.
Namun, ekonom JPMorgan Bruce Kasman memperkirakan pidato tersebut kemungkinan tidak akan memberikan sinyal suku bunga secara eksplisit.
Menurutnya, para ketua The Fed selama ini cenderung menghindari memberikan petunjuk kebijakan sebelum rapat resmi Federal Open Market Committee (FOMC).
Kasman menilai Warsh kemungkinan lebih banyak membahas agenda reformasi kebijakan moneter, termasuk proses pengurangan neraca (balance sheet) The Fed yang sudah mulai berjalan.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Masih Terbuka
Pelaku pasar saat ini memperkirakan sekitar 40% peluang Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 16 September 2026.
Sementara itu, pasar hampir sepenuhnya memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga akan terjadi sebelum akhir tahun.
Ekspektasi tersebut masih dapat berubah bergantung pada data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini.
Konsensus analis memperkirakan inflasi inti AS bulan Juli bertahan di level 3,3%, yang masih berada di atas target inflasi jangka panjang The Fed sebesar 2%.
Imbal Hasil Obligasi AS Tetap Tinggi
Perhatian investor juga tertuju pada kebijakan pembelian kembali obligasi pemerintah AS yang diumumkan Scott Bessent pekan lalu.
Pemerintah AS berencana meningkatkan program buyback obligasi untuk meredam kenaikan imbal hasil (yield) yang dinilai memperketat kondisi keuangan.
Namun hingga kini dampaknya masih terbatas.
- Yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun kembali naik ke 5,276%.
- Level tersebut mendekati puncak tertinggi dalam 19 tahun terakhir di 5,337%.
Kenaikan yield membuat instrumen obligasi menjadi lebih menarik dibanding saham, sekaligus meningkatkan tingkat diskonto terhadap proyeksi laba perusahaan, terutama saham dengan valuasi tinggi.
Dolar Kanada Tertekan Akibat Ancaman Perang Dagang
Di pasar valuta asing, dolar AS menguat sekitar 0,1% terhadap dolar Kanada menjadi 1,3784 CAD per dolar AS.
Pelemahan dolar Kanada terjadi setelah Perdana Menteri Mark Carney menyatakan Kanada akan membalas tarif impor Amerika Serikat dengan tarif baru terhadap sejumlah produk asal AS.
Kanada berencana mengenakan tarif terhadap:
- Baja.
- Produk susu.
- Peralatan rumah tangga.
- Alat pertanian.
- Bubur kertas dan kertas.
- Produk elektronik.
Langkah tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa hubungan dagang kedua negara akan kembali memanas.
Dolar AS Melemah terhadap Mata Uang Utama
Meski menguat terhadap dolar Kanada, mata uang AS justru masih berada di bawah tekanan terhadap sebagian besar mata uang utama dunia.
Pekan lalu indeks dolar turun sekitar 0,8% ke level 96,832.
Sementara itu:
- Euro bertahan di US$1,1675 setelah menguat hampir 0,9% pekan lalu.
- Dolar AS diperdagangkan stabil di sekitar 159 yen Jepang.
Investor mulai mengkhawatirkan meningkatnya utang pemerintah AS dan ketidakpastian kebijakan fiskal yang berpotensi mengurangi daya beli dolar dalam jangka panjang.
Harga Emas Mendekati Rekor Bulanan
Kekhawatiran terhadap prospek dolar AS mendorong permintaan aset lindung nilai seperti emas.
Harga emas spot naik sekitar 0,4% menjadi US$4.623 per troy ounce.
Sepanjang Agustus 2026, harga emas telah melonjak lebih dari 14%. Jika kenaikan tersebut bertahan hingga akhir bulan, Agustus akan menjadi bulan dengan kenaikan harga emas terbesar sepanjang sejarah.
Reli emas didorong oleh kombinasi meningkatnya risiko geopolitik, ketidakpastian arah kebijakan moneter AS, dan meningkatnya permintaan aset yang dianggap lebih aman dibanding mata uang maupun saham.
Pasar Global Memasuki Pekan Penuh Penentu
Pekan ini menjadi salah satu periode paling krusial bagi pasar keuangan global. Investor akan mencermati tiga katalis utama sekaligus, yakni pengumuman sanksi Amerika Serikat terhadap Iran yang berpotensi memengaruhi harga energi, laporan keuangan Nvidia sebagai barometer industri AI, serta pidato Ketua The Fed Kevin Warsh yang dapat membentuk ekspektasi arah suku bunga hingga akhir 2026.










