Menu

Mode Gelap
Toyota Celica Dikabarkan Bangkit Lagi, Siap Hadir dengan Mesin 400 HP dan Hybrid 500 HP Volkswagen Siapkan Restrukturisasi Besar, Hingga 50.000 Karyawan Berpotensi Kena PHK Chainlink Ungkap Nilai Aset Dunia Nyata di Blockchain Tembus US$340 Miliar, Tokenisasi Diprediksi Melonjak Hingga US$4 Triliun Michael Saylor Tegaskan Warga Amerika Bebas Promosikan Bitcoin Tanpa Lisensi, Ini Alasannya DMAS Raup Marketing Sales Rp1,15 Triliun di Semester I-2026, 75% Permintaan Lahan Industri Datang dari Data Center BEI Umumkan Saham SAFE Masuk Daftar Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, 98,14% Dikuasai Segelintir Pemegang Saham

Kripto

Bitcoin Bukan Aset Safe Haven? Ekonom Brookings Soroti Kinerjanya yang Kalah dari Emas

badge-check


					Bitcoin Perbesar

Bitcoin

Bitcoin kembali menjadi sorotan dalam perdebatan mengenai statusnya sebagai aset pelindung nilai. Ekonom Brookings Institution, Robin Brooks, menilai Bitcoin belum layak disebut sebagai safe haven maupun penyimpan nilai (store of value) yang dapat diandalkan.

Pandangan tersebut didasarkan pada kinerja Bitcoin ketika investor mulai meningkatkan alokasi dana ke aset yang dianggap mampu melindungi kekayaan dari pelemahan nilai mata uang.

Dilansir dari cryptonews.net, menurut Brooks, pergerakan harga justru menunjukkan Bitcoin tertinggal dibandingkan logam mulia seperti emas dan perak. Kondisi tersebut, menurut dia, menjadi indikator penting untuk menilai apakah Bitcoin benar-benar berfungsi sebagai lindung nilai terhadap depresiasi mata uang fiat.

Bitcoin Kalah dari Logam Mulia

Argumen utama Brooks bertumpu pada perilaku pasar, bukan sekadar karakteristik teoritis Bitcoin.

Bitcoin selama ini kerap dipromosikan sebagai “emas digital” karena jumlahnya terbatas dan tidak dikendalikan oleh pemerintah atau bank sentral. Namun, Brooks melihat kenyataan di pasar belum sepenuhnya mendukung narasi tersebut.

Ketika kekhawatiran mengenai penurunan nilai mata uang meningkat dan aliran investasi mengarah ke aset yang dianggap mampu mempertahankan daya beli, harga logam mulia menunjukkan performa yang lebih kuat dibandingkan Bitcoin.

Bagi Brooks, fakta tersebut lebih penting daripada narasi mengenai kelangkaan Bitcoin.

Dengan kata lain, sebuah aset tidak otomatis menjadi safe haven hanya karena memiliki pasokan terbatas. Kemampuan mempertahankan nilai ketika kondisi ekonomi memburuk harus terlihat dalam pergerakan harga nyata.

Perdebatan “Digital Gold” Belum Berakhir

Pernyataan Brooks kembali menghidupkan perdebatan lama mengenai posisi Bitcoin dalam portofolio investasi.

Kelompok yang mendukung Bitcoin menilai karakteristik pasokan yang terbatas serta sifatnya yang terdesentralisasi membuat aset kripto tersebut berpotensi menjadi perlindungan terhadap ekspansi moneter dan inflasi.

Namun, kelompok skeptis melihat volatilitas Bitcoin yang jauh lebih tinggi dibandingkan emas sebagai salah satu alasan mengapa aset tersebut belum dapat disejajarkan dengan aset safe haven tradisional.

Bitcoin juga dalam sejumlah periode perdagangan menunjukkan karakteristik yang lebih dekat dengan aset berisiko. Ketika investor menghindari risiko, Bitcoin dapat mengalami tekanan bersamaan dengan aset spekulatif lainnya.

Hal ini berbeda dengan emas yang telah memiliki sejarah panjang sebagai tempat berlindung ketika terjadi ketidakpastian ekonomi, geopolitik maupun tekanan terhadap mata uang.

Usia Bitcoin Masih Relatif Muda

Faktor lain yang menjadi pembeda adalah rekam jejak.

Emas telah digunakan sebagai penyimpan kekayaan selama berabad-abad. Sementara Bitcoin baru hadir sejak 2009 dan masih berada pada tahap relatif awal dalam perjalanan sebagai kelas aset.

Dalam perspektif tersebut, Bitcoin memang belum memiliki sejarah panjang yang cukup untuk membuktikan apakah kemampuannya mempertahankan nilai dapat bertahan melewati berbagai siklus ekonomi.

Karena itu, Brooks memilih melihat bagaimana Bitcoin benar-benar bergerak ketika tekanan inflasi dan pelemahan mata uang terjadi, ketimbang hanya mengandalkan karakteristik teknologinya.

Apa Artinya bagi Investor?

Perbedaan antara safe haven dan aset spekulatif penting dipahami sebelum investor menentukan strategi.

Aset safe haven pada dasarnya diharapkan mampu mempertahankan modal ketika pasar mengalami gejolak. Sebaliknya, aset spekulatif memiliki potensi keuntungan lebih tinggi, tetapi juga membawa risiko kerugian yang lebih besar.

Jika pendekatan Brooks digunakan sebagai acuan, investor yang tujuan utamanya adalah melindungi kekayaan dari depresiasi mata uang mungkin perlu mempertimbangkan aset seperti emas dan logam mulia lainnya.

Namun, hal tersebut tidak berarti Bitcoin kehilangan seluruh relevansinya dalam portofolio investasi.

Perilaku Bitcoin masih dapat berubah seiring meningkatnya adopsi institusional, perkembangan regulasi, bertambahnya likuiditas dan semakin matangnya pasar kripto.

Dengan semakin banyaknya institusi keuangan yang terlibat dalam ekosistem Bitcoin, karakteristik aset tersebut pada masa depan juga berpotensi berbeda dibandingkan siklus-siklus sebelumnya.

Performa Pasar Jadi Ujian Utama

Perdebatan mengenai Bitcoin sebagai “emas digital” kemungkinan belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Pendukung Bitcoin dapat menunjuk pada kelangkaan pasokan dan desentralisasi sebagai alasan fundamental untuk menyebutnya sebagai penyimpan nilai. Sementara itu, kritik seperti Brooks menilai fungsi sebuah aset harus dibuktikan melalui perilaku harga ketika kondisi pasar benar-benar mengalami tekanan.

Pada akhirnya, apakah Bitcoin merupakan safe haven atau sekadar aset berisiko tinggi bukan hanya ditentukan oleh narasi. Pergerakan harga dalam menghadapi inflasi, pelemahan mata uang, krisis dan gejolak pasar akan menjadi ujian sebenarnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Chainlink Ungkap Nilai Aset Dunia Nyata di Blockchain Tembus US$340 Miliar, Tokenisasi Diprediksi Melonjak Hingga US$4 Triliun

5 September 2026 - 10:26 WIB

Chainlink

Michael Saylor Tegaskan Warga Amerika Bebas Promosikan Bitcoin Tanpa Lisensi, Ini Alasannya

5 September 2026 - 10:17 WIB

Michael Saylor

AS Bentuk Satgas Quantum, Ancaman 7 Juta Bitcoin Rentan Serangan Komputer Kuantum Masuk Perhatian Departemen Keuangan

26 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Bitcoin

Bitcoin Tembus Rp1,1 Miliar, Analis Sebut Permintaan ETF Jadi Penentu

21 Agustus 2026 - 11:35 WIB

Michael Saylor Sebut Bitcoin sebagai Solusi Rekayasa untuk Menyimpan Nilai Ekonomi

16 Agustus 2026 - 13:37 WIB

Michael Saylor
Trending di Kripto