Menu ✖

Mode Gelap
RANS Entertainment (RANS) Klarifikasi Isu Pengerahan Warga Berbayar di RANS Carnival Yogyakarta Indo Boga Sukses (IBOS) Buka Flagship Segafredo Caffè di Sleman, Grand Opening 7 November BEI Pertahankan Suspensi Saham MENN dan SOUL, Belum Sampaikan Laporan Keuangan Semester I-2026 Sandiaga Uno Borong 915.000 Saham MUTU, Kini Kantongi 9,51 Juta Saham Laba Bersih CBDK Melonjak 39% Jadi Rp1,82 Triliun hingga September 2026 EPAC Siapkan Rights Issue Maksimal 2 Miliar Saham, Dana untuk Ekspansi dan Bayar Utang

Saham

Dasco Ingin Indonesia Tentukan Rating Pasar Modal Sendiri, IHSG Bergerak Sideways

badge-check


					Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad Perbesar

Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mendorong Indonesia memiliki kemampuan menentukan penilaian atau rating pasar modalnya sendiri. Pernyataan tersebut muncul di tengah polemik rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berpotensi menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Melalui akun Instagram pribadinya, @sufmi_dasco, Sabtu (24/10/2026), Dasco menuliskan bahwa Indonesia akan menentukan penilaian pasar modalnya sendiri.

“Di bursa kita, bersama akan kita buat dan tentukan rating kita sendiri,” tulis Dasco.

Dalam unggahan yang sama, Dasco juga mengajak masyarakat untuk bersatu dan berjuang demi kemajuan bangsa.

“Kita bersatu, bergerak dan berjuang. Menuju Bangsa Pemenang!” tulisnya.

Meski demikian, Dasco belum menjelaskan secara terperinci mengenai mekanisme, langkah konkret, maupun pihak yang akan terlibat dalam rencana penentuan rating pasar modal tersebut.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi mengaku belum menyimak pernyataan Dasco. Namun, ia menyambut positif berbagai masukan yang bertujuan memperkuat pasar modal Indonesia.

“Kami tentu selalu menyambut baik ya dukungan yang diberikan dan koordinasi yang baik selama ini. Hal-hal yang positif yang diberikan tentu akan menguatkan terus kondisi pasar modal kita, dan untuk hal yang spesifik seperti yang ditanyakan, nanti pada waktunya kami akan koordinasi lebih lanjut ya,” ujar Hasan.

IHSG Bergerak Mendatar, Investor Menanti Keputusan The Fed

Di tengah perkembangan tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak mendatar pada perdagangan Senin (26/10/2026). Pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu dan mencermati atau wait and see menjelang keputusan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

IHSG sempat dibuka menguat sebelum berbalik melemah. Pada pukul 09.46 WIB, indeks turun 18,28 poin atau 0,34 persen ke level 5.420,98. Sementara itu, indeks LQ45 yang mengukur pergerakan 45 saham unggulan melemah 2,61 poin atau 0,48 persen ke posisi 544,44.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memperkirakan pergerakan IHSG akan dipengaruhi kemampuannya bertahan di level teknikal penting.

“Jika IHSG mampu bertahan di atas level 5.424, potensi lanjut menuju resistance 5.520 dan 5.607–5.631. Namun, jika terjadi profit taking dan IHSG tidak mampu bertahan di atas level 5.424, bisa kembali ke 5.328, IHSG bisa kembali ke support 5.278 atau 5.185,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Keputusan The Fed dan Ketegangan Geopolitik Jadi Perhatian

Dari eksternal, investor mencermati meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan konflik dengan Iran belum akan berakhir sebelum kemampuan nuklir Teheran dipastikan dilumpuhkan. Pernyataan itu disampaikan meskipun Trump menyebut tidak ada serangan AS pada Minggu (25/10).

Kekhawatiran geopolitik turut meningkat setelah Kedutaan Besar AS memerintahkan staf nonesensial beserta keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi. Langkah tersebut menyusul laporan serangan Houthi yang melibatkan 10 rudal dan menyebabkan dua orang terluka serta kerusakan properti.

Sejumlah negara Teluk mengecam serangan tersebut. Sementara itu, Iran menilai negosiasi dengan Washington tidak akan bermakna sebelum tujuh persyaratannya dipenuhi.

Selain geopolitik, perhatian pasar tertuju pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) pada 28–29 Oktober 2026. The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya.

Menurut Liza, pernyataan resmi The Fed akan menjadi petunjuk bagi investor mengenai arah kebijakan moneter AS, terutama menjelang pertemuan berikutnya pada Desember 2026.

Agenda politik AS juga menjadi perhatian menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026 yang akan menentukan komposisi dan kendali Kongres.

Di sektor teknologi, pasar dibayangi kekhawatiran mengenai keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Besarnya belanja modal untuk membangun pusat data menjadi sorotan, terutama terkait kemampuan perusahaan menghasilkan pengembalian investasi yang sepadan.

Meski demikian, prospek laba perusahaan masih memberikan dukungan bagi pasar saham AS. Berdasarkan data LSEG IBES, laba perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 diproyeksikan meningkat lebih dari 32 persen pada kuartal III 2026.

Sejumlah perusahaan besar, termasuk Alphabet, Microsoft, dan Amazon, juga dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartalan dalam periode pelaporan mendatang. Di sisi lain, sentimen konsumen AS pada Oktober 2026 melemah mendekati rekor terendah, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran rumah tangga terhadap kondisi ekonomi.

Sentimen Domestik: Biodiesel B50 hingga Investasi

Dari dalam negeri, rencana penerapan mandatori biodiesel B50 menjadi salah satu perhatian pelaku pasar komoditas. Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan minyak sawit untuk konsumsi domestik dan memengaruhi keseimbangan pasokan global.

Sementara itu, Danantara Indonesia menargetkan profitabilitas perusahaan BUMN mencapai Rp334 triliun hingga akhir 2026. Target tersebut akan didukung efisiensi operasional, penyederhanaan struktur perusahaan, dan optimalisasi aset negara.

Hingga saat ini, proses penyederhanaan struktur atau streamlining telah dilakukan terhadap 364 perusahaan. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 700 perusahaan pada akhir Desember 2026.

Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal Indonesia selama Oktober 2024 hingga September 2026 mencapai Rp3.923,2 triliun. Angka tersebut terdiri atas penanaman modal dalam negeri sebesar Rp1.998,7 triliun dan penanaman modal asing sebesar Rp1.924,5 triliun.

Investasi tersebut menyerap sekitar 5,49 juta tenaga kerja. Sebanyak 51,8 persen investasi juga terealisasi di luar Pulau Jawa.

Namun, prospek pertumbuhan ekonomi domestik masih menghadapi tantangan. Fitch Ratings memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen sepanjang 2026, lebih rendah dibandingkan target pemerintah sebesar 5,4 persen.

Setelah mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 5,4 persen pada semester I 2026, ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh di bawah 5 persen pada semester II.

Perlambatan tersebut antara lain dipengaruhi berkurangnya dorongan belanja pemerintah setelah pengeluaran meningkat hampir 19 persen pada semester I 2026. Belanja pemerintah disebut memberikan kontribusi sekitar 1,2 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut.

Selain itu, kenaikan harga energi global akibat konflik AS–Iran dan melemahnya kepercayaan konsumen diperkirakan menekan aktivitas ekonomi serta konsumsi rumah tangga hingga akhir tahun.

Bursa Global Kompak Melemah

Tekanan terhadap pasar saham tidak hanya terjadi di Indonesia. Bursa Eropa ditutup melemah pada Jumat (23/10/2026), dengan indeks FTSE 100 Inggris turun 0,32 persen, DAX Jerman melemah 0,75 persen, CAC 40 Prancis turun 0,36 persen, dan Euro Stoxx 50 terkoreksi 0,31 persen.

Di Wall Street, indeks S&P 500 turun 0,52 persen ke posisi 7.623,68. Nasdaq Composite melemah 0,21 persen ke level 25.954,34, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 1,23 persen ke posisi 51.215,16.

Pelemahan juga mewarnai perdagangan bursa saham Asia pada Senin pagi. Indeks Nikkei Jepang turun 0,62 persen ke posisi 62.305,00, Hang Seng Hong Kong melemah 0,03 persen ke level 23.087,76, dan Kospi Korea Selatan turun 1,34 persen ke posisi 5.474,53.

Sementara itu, indeks Shanghai terkoreksi 0,60 persen ke posisi 3.668,27 dan Straits Times Singapura melemah 0,10 persen ke level 5.417,76.

Kombinasi ketidakpastian geopolitik, arah suku bunga AS, kekhawatiran terhadap investasi AI, serta proyeksi perlambatan ekonomi menjadi faktor yang dicermati investor. Di dalam negeri, polemik penilaian MSCI terhadap pasar modal Indonesia menambah perhatian terhadap upaya memperkuat daya saing dan kepercayaan investor terhadap bursa saham domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Indo Boga Sukses (IBOS) Buka Flagship Segafredo Caffè di Sleman, Grand Opening 7 November

4 November 2026 - 08:23 WIB

PT Indo Boga Sukses Tbk (IBOS) - (Foto: Istimewa www.financialreview.id/)

BEI Pertahankan Suspensi Saham MENN dan SOUL, Belum Sampaikan Laporan Keuangan Semester I-2026

4 November 2026 - 08:20 WIB

Bursa Efek Indonesia

Sandiaga Uno Borong 915.000 Saham MUTU, Kini Kantongi 9,51 Juta Saham

30 Oktober 2026 - 08:31 WIB

PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU

EPAC Siapkan Rights Issue Maksimal 2 Miliar Saham, Dana untuk Ekspansi dan Bayar Utang

30 Oktober 2026 - 08:20 WIB

PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC)

Komisaris JECX Admar Anwar Tambah Kepemilikan 15.000 Saham

30 Oktober 2026 - 08:16 WIB

PT Nitrasanata Dharma Tbk (BEI: JECX)
Trending di Saham