BIZBUZ.ID – Pendiri bersama (co-founder) Solana, Anatoly Yakovenko, ikut angkat bicara mengenai perdebatan hukum terkait penggunaan data publik untuk melatih model kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Menurut Yakovenko, perusahaan AI seharusnya diizinkan menggunakan informasi yang dipublikasikan secara sukarela di internet sebagai bahan pelatihan model mereka. Ia menilai praktik tersebut dapat dilindungi oleh prinsip fair use dalam hukum hak cipta Amerika Serikat.
Pernyataan itu disampaikan Yakovenko melalui platform X saat menanggapi diskusi mengenai gugatan hak cipta terhadap perusahaan AI Anthropic.
“Hakim memutuskan bahwa pelatihan AI menggunakan buku termasuk fair use jika buku tersebut diperoleh secara legal. Jadi kesimpulannya justru berlawanan dengan argumen yang menyatakan AI tidak boleh belajar dari materi tersebut,” tulis Yakovenko.
Konten yang Dipublikasikan Sukarela Dinilai Layak Digunakan AI
Yakovenko berpendapat bahwa ketika seseorang secara sadar mengunggah informasi ke internet, maka informasi tersebut pada dasarnya dapat dipelajari oleh sistem AI.
Namun, ia juga menegaskan bahwa pandangannya hanya berlaku untuk konten yang dipublikasikan secara sukarela dan tidak otomatis mencakup seluruh jenis data yang tersedia di internet.
Pandangan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap bagaimana perusahaan AI mengumpulkan dan memanfaatkan data untuk melatih model bahasa besar (Large Language Models/LLM).
Kasus Anthropic Jadi Sorotan
Komentar Yakovenko muncul setelah pengadilan Amerika Serikat kembali menangani kasus besar yang melibatkan perusahaan AI Anthropic.
Seorang hakim federal, Araceli Martínez-Olguín, baru-baru ini menyetujui penyelesaian (settlement) senilai US$1,5 miliar dalam gugatan class action yang diajukan oleh sekelompok penulis terhadap Anthropic.
Kesepakatan tersebut menjadi salah satu penyelesaian sengketa hak cipta terbesar yang pernah terjadi dalam industri kecerdasan buatan.
Kasus itu berfokus pada penggunaan buku sebagai data pelatihan AI.
Sebelumnya, pengadilan menyatakan bahwa penggunaan buku yang diperoleh secara legal untuk melatih AI dapat dikategorikan sebagai fair use. Sebaliknya, penggunaan buku hasil pembajakan kemungkinan besar tidak memperoleh perlindungan hukum.
Perdebatan Hak Cipta Belum Berakhir
Putusan tersebut menunjukkan bahwa persoalan hukum AI tidak hanya berkaitan dengan penggunaan materi berhak cipta, tetapi juga bagaimana materi tersebut diperoleh.
Sejumlah penulis bahkan menolak penyelesaian tersebut karena menganggap kompensasi yang diterima terlalu kecil.
Dalam proposal penyelesaian, setiap karya diperkirakan memperoleh pembayaran sekitar US$3.000. Sebagian penulis berharap gugatan individu dapat menghasilkan ganti rugi yang lebih besar.
Namun hakim tetap mengesahkan kesepakatan tersebut setelah menilai sebagian besar anggota kelompok penggugat telah menerima pemberitahuan dan mengajukan klaim.
Fair Use Masih Menjadi Perdebatan
Perdebatan mengenai AI dan hak cipta mengacu pada Pasal 107 Undang-Undang Hak Cipta Amerika Serikat, yang mengatur konsep fair use.
Dalam menentukan apakah suatu penggunaan termasuk fair use, pengadilan mempertimbangkan beberapa faktor, di antaranya:
- Tujuan penggunaan materi.
- Jenis karya yang digunakan.
- Dampaknya terhadap nilai ekonomi atau pasar dari karya asli.
Hingga kini, belum ada keputusan hukum yang benar-benar memberikan kepastian untuk seluruh praktik pelatihan AI.
Karena itu, setiap perkara masih dinilai berdasarkan kondisi dan fakta yang berbeda.
Dampak bagi AI dan Blockchain
Perdebatan ini juga dinilai memiliki dampak terhadap perkembangan teknologi blockchain.
Jika pengadilan pada akhirnya memberikan perlindungan luas kepada perusahaan AI untuk menggunakan data publik, maka kebutuhan terhadap sistem blockchain yang melacak kepemilikan data dan lisensi kemungkinan akan berkurang.
Sebaliknya, apabila aturan menjadi lebih ketat, perusahaan AI diperkirakan harus membangun sistem yang lebih transparan untuk:
- Melacak asal-usul data pelatihan.
- Mengelola izin penggunaan konten.
- Memberikan kompensasi kepada pemilik hak cipta.
Meski demikian, Yakovenko tidak mengumumkan proyek baru Solana, kemitraan AI, maupun peluncuran produk terkait. Pernyataannya lebih menyoroti bagaimana hukum seharusnya memandang penggunaan informasi yang dipublikasikan secara sukarela di internet sebagai sumber pembelajaran bagi sistem kecerdasan buatan.
Perdebatan mengenai AI dan hak cipta diperkirakan masih akan terus berkembang, terutama karena semakin banyak perusahaan teknologi yang mengandalkan data dalam jumlah besar untuk membangun model AI generatif.












