BIZBUZ.ID – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat bergerak nyaris tidak berubah pada perdagangan Minggu malam waktu setempat, setelah tiga indeks utama Wall Street menutup pekan lalu di zona merah.
Sentimen pasar masih dibayangi oleh pelemahan saham sektor semikonduktor, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta penantian laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi raksasa yang akan dirilis pekan ini.
Futures Wall Street Bergerak Datar
Menjelang pembukaan perdagangan, kontrak berjangka menunjukkan pergerakan yang relatif terbatas.
- S&P 500 Futures turun sekitar 0,1%
- Nasdaq-100 Futures bergerak mendatar
- Dow Jones Futures melemah sekitar 84 poin atau 0,2%
Pergerakan tersebut mencerminkan sikap hati-hati investor setelah pekan lalu pasar saham AS mengalami tekanan cukup besar.
Tiga Indeks Utama Catat Kerugian Mingguan
Wall Street mengakhiri pekan sebelumnya dengan kinerja negatif.
- S&P 500 turun 1,6%
- Nasdaq Composite anjlok 2,9%
- Dow Jones Industrial Average melemah 0,9%
Tekanan terbesar datang dari sektor semikonduktor yang mengalami aksi jual cukup tajam.
Bahkan, VanEck Semiconductor ETF (SMH) mencatat penurunan hampir 9%, sekaligus menjadi penurunan mingguan ketiga dalam empat pekan terakhir.
Saham Chip Diperkirakan Masih Rentan
Chief Market Technician BTIG, Jonathan Krinsky, menilai tekanan terhadap saham semikonduktor kemungkinan belum berakhir.
Menurutnya, meski sektor tersebut berpeluang mengalami rebound jangka pendek, tanda-tanda terbentuknya titik balik (bottom) yang kuat masih belum terlihat.
Krinsky menilai lonjakan volume transaksi pada saham-saham seperti Micron beberapa waktu lalu membuat koreksi yang terjadi saat ini masih tergolong wajar dan belum menunjukkan fase kapitulasi pasar.
Bursa Asia Bergerak Beragam
Perdagangan di kawasan Asia-Pasifik pada Senin pagi berlangsung bervariasi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik di Timur Tengah.
Beberapa indeks utama mencatat pergerakan sebagai berikut:
- Kospi (Korea Selatan) turun 0,74%
- Kosdaq melemah 1,66%
- S&P/ASX 200 (Australia) naik 0,34%
Sementara itu, pasar saham Jepang ditutup karena hari libur nasional.
Konflik AS-Iran Kembali Memanas
Perhatian investor juga tertuju pada meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Militer Amerika Serikat melanjutkan operasi militernya dengan melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam kesembilan secara berturut-turut.
Operasi tersebut disebut bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi seorang personel militer tambahan tewas dalam konflik terbaru tersebut.
CENTCOM juga mengungkap telah menemukan sisa-sisa jenazah yang belum teridentifikasi di dekat lokasi serangan Iran di Yordania pada 17 Juli lalu yang sebelumnya menewaskan dua personel militer AS.
Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Harga Minyak Melonjak
Meningkatnya eskalasi konflik langsung mendorong kenaikan harga minyak dunia.
- West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 3% hingga diperdagangkan di atas US$85 per barel.
- Brent Crude juga menguat sekitar 3% ke level di atas US$91 per barel.
Kenaikan harga minyak berpotensi kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi global apabila konflik terus berlanjut.
Investor Menanti Laporan Keuangan Big Tech
Selain faktor geopolitik, perhatian pasar pekan ini juga tertuju pada musim laporan keuangan perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat.
Beberapa emiten yang paling dinantikan meliputi:
- Alphabet – dijadwalkan merilis laporan keuangan pada Rabu setelah penutupan pasar.
- Tesla – melaporkan kinerja pada hari yang sama.
- Intel – dijadwalkan merilis laporan keuangan pada Kamis.
Khusus Intel, perusahaan tersebut menjadi sorotan setelah harga sahamnya anjlok sekitar 13% sepanjang pekan lalu seiring pelemahan sektor semikonduktor.
Pasar Diperkirakan Tetap Berfluktuasi
Dengan kombinasi tekanan dari sektor teknologi, lonjakan harga minyak, serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, volatilitas diperkirakan masih akan mewarnai perdagangan Wall Street dalam beberapa hari ke depan.
Di sisi lain, laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan teknologi berkapitalisasi besar diperkirakan akan menjadi katalis utama yang menentukan arah pergerakan pasar pada pekan ini.












