JAKAR– Setelah menjadi salah satu pasar saham dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun ini, pasar modal Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Sejumlah investor global mulai kembali melirik saham-saham Indonesia seiring meredanya reli sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang sebelumnya menjadi motor penggerak bursa di Korea Selatan dan Taiwan.
Perubahan arah investasi tersebut muncul ketika banyak pelaku pasar mulai merealisasikan keuntungan dari saham-saham teknologi yang telah mengalami kenaikan tajam. Sebagian dana kini dialihkan ke pasar yang dinilai masih memiliki valuasi menarik, termasuk Indonesia.
Investor Mulai Berburu Saham Bernilai Murah
Selama beberapa bulan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan akibat keluarnya dana asing, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, serta proses peninjauan status Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI. Akibatnya, pasar saham Indonesia sempat menjadi salah satu yang berkinerja paling lemah di kawasan Asia.
Namun kondisi tersebut justru mulai dipandang sebagai peluang oleh sebagian investor.
David Chao, Global Market Strategist Asia-Pasifik dari Invesco, mengatakan pihaknya telah mengurangi eksposur di pasar Korea Selatan dan mulai meningkatkan investasi di Indonesia.
Menurutnya, Indonesia masih menawarkan potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang belum sepenuhnya dihargai oleh pasar.
Valuasi Dinilai Sudah Menarik
Pandangan serupa juga disampaikan sejumlah analis investasi yang menilai sebagian besar sentimen negatif terhadap Indonesia telah tercermin dalam harga saham.
Selama nilai tukar rupiah tetap stabil dan valuasi saham semakin murah, investor diperkirakan akan mulai melakukan akumulasi secara selektif meski ketidakpastian terkait evaluasi MSCI masih membayangi.
Optimisme tersebut turut terlihat dari langkah sejumlah manajer investasi internasional yang mulai membuka posisi di saham-saham Indonesia.
Salah satunya adalah Allan Gray yang baru-baru ini melakukan investasi perdananya di Indonesia melalui saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Perusahaan investasi itu menilai valuasi Indofood masih sangat menarik dibandingkan fundamental bisnisnya yang kuat, menghasilkan arus kas stabil, serta memiliki posisi dominan di industri makanan konsumen.
Saham Perbankan dan Komoditas Kembali Menarik
Selain sektor konsumsi, saham-saham perbankan dan pertambangan kembali menjadi perhatian investor asing.
Sejumlah analis menilai emiten seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) memiliki prospek yang masih positif di tengah rotasi investasi global.
Fenomena tersebut tercermin dari performa IHSG yang berhasil menguat lebih dari 10 persen sepanjang Juli, sementara sejumlah indeks saham berbasis teknologi di kawasan Asia justru mengalami koreksi cukup dalam.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa sebagian investor mulai mengalihkan dana dari saham-saham teknologi menuju pasar yang sebelumnya tertinggal.
Faktor Risiko Belum Hilang
Meski demikian, pemulihan pasar Indonesia belum sepenuhnya menghapus berbagai tantangan yang sebelumnya memicu aksi jual besar-besaran.
Investor masih mencermati kondisi fiskal pemerintah, stabilitas nilai tukar rupiah, hingga hasil evaluasi MSCI yang dijadwalkan diumumkan pada November mendatang.
Mayoritas analis memperkirakan Indonesia tetap akan mempertahankan status sebagai pasar berkembang (emerging market). Selain itu, keputusan S&P Global Ratings yang kembali mempertahankan peringkat utang Indonesia dengan outlook stabil juga memberikan tambahan kepercayaan bagi investor.
Dalam sejumlah pertemuan dengan investor di Hong Kong dan Thailand, minat terhadap pasar saham Indonesia disebut mulai meningkat. Beberapa investor bahkan menilai bahwa IHSG kemungkinan telah mencapai titik terendahnya sehingga peluang pemulihan semakin terbuka.
Kepercayaan Investor Masih Perlu Dipulihkan
Di sisi lain, tidak semua pelaku pasar yakin bahwa melemahnya reli saham AI akan menjadi katalis jangka panjang bagi aset Indonesia.
Beberapa investor global juga mulai kembali meningkatkan investasi di pasar India dan China yang dinilai menawarkan peluang pertumbuhan serupa.
Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan berupa melemahnya kepercayaan investor terhadap kebijakan fiskal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kekhawatiran mengenai peningkatan belanja negara membuat nilai tukar rupiah melemah hampir 8 persen sepanjang tahun ini dan sempat berada di level terendah sepanjang sejarah.
Sebagai negara pengimpor minyak bersih, kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi faktor yang menambah tekanan terhadap perekonomian nasional.
Prospek Jangka Panjang Masih Menjanjikan
Meski menghadapi berbagai tantangan, sebagian besar investor institusi belum meninggalkan Indonesia sepenuhnya.
Data Copley Fund Research menunjukkan lebih dari separuh manajer investasi aktif yang dipantaunya masih memberikan porsi investasi lebih besar (overweight) terhadap Indonesia. Namun, jumlah dana yang ditempatkan di pasar Indonesia memang turun ke sekitar 80 persen, level terendah dalam 15 tahun terakhir.
Lembaga riset tersebut menilai fundamental jangka panjang Indonesia tetap kuat berkat besarnya pasar domestik, pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, serta potensi konsumsi masyarakat yang terus berkembang.
Dengan valuasi saham yang kini lebih murah dibandingkan beberapa pasar utama Asia, Indonesia dinilai memiliki peluang menarik apabila sentimen global kembali membaik. Banyak investor memilih bersabar sambil menunggu kepastian dari MSCI dan perkembangan kebijakan ekonomi pemerintah, dengan harapan pasar saham nasional dapat melanjutkan tren pemulihannya dalam beberapa bulan mendatang.
Sumber: Reuters












