JAKARTA – Volvo Cars mencatat penjualan global sebanyak 164.663 unit sepanjang periode Mei hingga Juli 2026. Angka tersebut turun sekitar 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, di tengah tekanan pasar otomotif China dan perubahan tren permintaan kendaraan global.
Meski secara keseluruhan mengalami penurunan, kinerja Volvo di Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Penjualan di Negeri Paman Sam mencatat pertumbuhan dua digit selama tiga bulan berturut-turut.
Dalam keterangan yang dirilis pada 4 Agustus 2026, Volvo menyebut pasar China menjadi faktor utama yang menekan kinerja penjualan global. Perlambatan pasar otomotif di negara tersebut membuat penjualan Volvo ikut terkoreksi.
Sebaliknya, pasar Eropa yang menjadi wilayah penjualan terbesar Volvo masih menunjukkan ketahanan. Permintaan terhadap kendaraan dengan teknologi elektrifikasi menjadi salah satu penopang penjualan perusahaan.
Mobil Listrik Makin Dominan
Di tengah penurunan penjualan secara keseluruhan, kendaraan elektrifikasi justru mencatat pertumbuhan yang cukup kuat.
Penjualan mobil battery electric vehicle (BEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) Volvo selama periode Mei-Juli 2026 mencapai 87.464 unit, naik 15% dibandingkan 76.123 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kontribusi kendaraan elektrifikasi tersebut bahkan mencapai 53% dari total penjualan Volvo selama tiga bulan.
Dari angka tersebut, PHEV menyumbang 43.221 unit, meningkat 9% secara tahunan dibandingkan 39.547 unit pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, penjualan mobil listrik murni atau BEV tumbuh lebih kencang. Volvo membukukan penjualan 44.243 unit BEV, naik 21% dari 36.576 unit setahun sebelumnya.
Dengan capaian tersebut, mobil listrik murni menyumbang sekitar 27% dari seluruh kendaraan Volvo yang terjual selama periode tersebut.
Mobil Bensin dan Hybrid Mulai Tertekan
Perubahan pola permintaan konsumen terlihat semakin jelas ketika penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal dan mild hybrid justru mengalami penurunan.
Penjualan kendaraan dengan teknologi tersebut merosot 19% secara tahunan, dari 95.830 unit pada periode Mei-Juli 2025 menjadi 77.199 unit pada tahun ini.
Artinya, penurunan kendaraan bermesin konvensional terjadi ketika penjualan mobil elektrifikasi terus mengalami pertumbuhan. Kondisi ini memperlihatkan semakin besarnya kontribusi kendaraan listrik dan plug-in hybrid terhadap portofolio Volvo.
Chief Commercial Officer Volvo Cars Erik Severinson mengatakan perusahaan melihat perkembangan positif dari pasar AS, seiring industri otomotif di kawasan tersebut mulai kembali mendapatkan momentum.
“Kami terdorong oleh pemulihan di AS ketika industri secara keseluruhan mulai mendapatkan momentum,” ujar Severinson.
Ia menambahkan, Volvo juga tetap menjaga disiplin harga di pasar Eropa. Pada saat yang sama, perusahaan melihat peningkatan permintaan ritel terhadap kendaraan listrik murni.
Volvo Andalkan EX60
Volvo juga menaruh harapan besar pada model listrik terbarunya, EX60. SUV listrik berukuran menengah tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pendorong penting kinerja perusahaan pada paruh kedua 2026.
Severinson menyebut EX60 berpotensi menjadi produk yang membawa perubahan besar bagi Volvo. Peningkatan produksi dan pengiriman kendaraan kepada konsumen diharapkan mulai memberikan dampak terhadap penjualan pada semester II 2026.
Peluncuran dan peningkatan produksi EX60 menjadi penting bagi Volvo di tengah persaingan kendaraan listrik yang semakin ketat. Perusahaan kini tidak hanya menghadapi tantangan dari merek otomotif tradisional, tetapi juga persaingan dari produsen kendaraan listrik yang agresif di pasar global.
Dengan penjualan mobil listrik yang terus tumbuh, Volvo tampaknya semakin mempercepat transformasi portofolionya menuju kendaraan beremisi rendah. Namun, tekanan di pasar China dan penurunan kendaraan bermesin konvensional masih menjadi tantangan yang harus dihadapi perusahaan.












