Jika memperhatikan mobil-mobil keluaran terbaru, Anda mungkin akan menemukan kamera di hampir setiap sudut kendaraan. Mulai dari atas pelat nomor belakang, grille depan, bawah spion, belakang kaca depan (windshield), hingga di dalam kabin yang mengarah ke wajah pengemudi.
Jumlah kamera yang semakin banyak ini bukan sekadar tren desain atau hanya berfungsi membantu parkir. Kamera kini menjadi komponen penting dalam berbagai sistem keselamatan aktif, teknologi parkir pintar, hingga fitur bantuan pengemudi atau Advanced Driver Assistance Systems (ADAS).
Seiring berkembangnya teknologi menuju kendaraan semi-otonom hingga mobil tanpa pengemudi, kebutuhan akan “mata” tambahan pada kendaraan pun terus meningkat.
Berawal dari Kamera Mundur
Beberapa tahun lalu, kamera belakang (backup camera) masih menjadi fitur premium yang hanya tersedia pada mobil mewah atau varian tertinggi.
Namun situasi berubah sejak 2018, ketika pemerintah Amerika Serikat mewajibkan seluruh mobil penumpang baru berbobot di bawah sekitar 4,5 ton (10.000 pound) dilengkapi teknologi kamera belakang untuk meningkatkan keselamatan saat mundur.
Sejak saat itu, penggunaan kamera pada mobil berkembang sangat pesat dan menjadi standar di hampir semua kendaraan baru.
Semakin Pintar Mobil, Semakin Banyak Kameranya
Satu kamera di bagian depan memang cukup membantu melihat kondisi jalan. Namun mobil modern membutuhkan informasi yang jauh lebih lengkap.
Misalnya saat berpindah jalur, sistem harus mengetahui apakah ada kendaraan di sisi kanan atau kiri. Saat parkir otomatis, mobil juga harus mampu mengenali trotoar, garis parkir, tiang beton, hingga kereta belanja di area parkir.
Pada fitur hands-free highway driving, kendaraan bahkan harus memantau lalu lintas dari berbagai arah secara bersamaan. Karena itulah produsen memasang banyak kamera dengan sudut pandang yang saling melengkapi.
Sebagai contoh, Tesla Model Y menggunakan kamera yang ditempatkan di sekitar kaca depan, grille, fender, pilar kendaraan, hingga bagian belakang mobil. Sementara produsen lain mengombinasikan kamera dengan sensor radar dan LiDAR agar kendaraan dapat memahami lingkungan sekitarnya secara lebih akurat.
Prinsipnya sederhana, semakin banyak tugas yang dilakukan mobil secara otomatis, semakin banyak informasi visual yang dibutuhkan.
Lalu, Mengapa Kamera Mobil Tidak Bisa Menjadi Dashcam?
Pertanyaan ini sering muncul di kalangan pemilik kendaraan.
Jika mobil sudah memiliki kamera di hampir semua sisi, mengapa rekamannya tidak otomatis disimpan seperti dashcam?
Perdebatan ini bahkan ramai dibahas oleh pengguna forum Reddit. Banyak yang mempertanyakan mengapa mobil mahal dengan kamera beresolusi tinggi tetap mengharuskan pemilik memasang dashcam tambahan di kaca depan.
Padahal secara perangkat keras, kamera tersebut sudah tersedia.
Jawabannya Tidak Sesederhana Itu
Agar kamera mobil dapat berfungsi sebagai dashcam, produsen harus menambahkan media penyimpanan, perangkat lunak khusus, dan komponen yang mampu bekerja bertahun-tahun dalam kondisi panas, dingin, getaran, hingga proses perekaman yang berlangsung terus-menerus.
Belum lagi persoalan privasi dan hukum.
Rekaman memang bisa menjadi bukti ketika pengemudi tidak bersalah dalam kecelakaan. Namun di sisi lain, rekaman yang sama juga dapat memperlihatkan jika pengemudi melanggar batas kecepatan, mengemudi sambil menggunakan ponsel, atau melakukan manuver berbahaya.
Produsen mobil juga harus menentukan siapa yang memiliki hak atas rekaman tersebut, berapa lama data disimpan, apakah dapat diakses dari jarak jauh, hingga bagaimana jika polisi, perusahaan asuransi, atau pengacara meminta akses terhadap video tersebut.
Faktor Biaya Juga Menjadi Pertimbangan
Mengintegrasikan sistem perekaman ke dalam kendaraan bukan perkara murah. Sistem tersebut harus bekerja andal selama bertahun-tahun, mendapatkan pembaruan perangkat lunak secara berkala, dan kemungkinan besar juga harus dilindungi oleh garansi pabrikan.
Meski demikian, banyak pengguna menilai teknologi tersebut sudah seharusnya tersedia.
Mobil yang mampu mengenali pejalan kaki, menampilkan tampilan parkir 360 derajat, hingga memantau arah pandangan mata pengemudi dinilai seharusnya juga mampu merekam kejadian ketika kendaraannya ditabrak atau mengalami kecelakaan.
Dengan semakin berkembangnya teknologi kendaraan pintar, bukan tidak mungkin fitur perekaman otomatis dari seluruh kamera akan menjadi standar baru pada mobil masa depan.












