JAKARTA – PT Barito Pacific Tbk (IDX: BRPT) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang semester pertama 2026 di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik. Emiten yang bergerak di sektor energi, petrokimia, dan infrastruktur ini membukukan laba bersih setelah pajak sebesar US$518 juta atau sekitar Rp9,37 triliun, dengan pendapatan konsolidasi mencapai US$5,686 miliar atau sekitar Rp102,85 triliun. Perhitungan menggunakan kurs sekitar Rp18.087 per dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi tidak diaudit yang dirilis pada Jumat (31/7), BRPT juga membukukan EBITDA sebesar US$1,084 miliar, setara sekitar Rp19,61 triliun, mencerminkan kuatnya profitabilitas operasional Perseroan.
Direktur Utama Barito Pacific, Agus Pangestu, mengatakan kondisi global sepanjang semester pertama 2026 masih dipenuhi ketidakpastian akibat dinamika geopolitik. Meski demikian, model bisnis terintegrasi Perseroan di sektor energi, kimia, dan infrastruktur mampu menjaga ketahanan kinerja sekaligus menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Menurutnya, kontribusi terbesar terhadap kinerja berasal dari segmen kilang (refinery) yang memperoleh manfaat dari keberhasilan integrasi aset Shell di Singapura. Kinerja tersebut semakin kuat di tengah dislokasi pasar energi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, bisnis petrokimia yang beroperasi secara standalone di Indonesia masih menghadapi tantangan pasar. Namun, jaringan manufaktur yang terintegrasi di Indonesia dan Singapura memungkinkan Perseroan menjaga keandalan pasokan serta meningkatkan fleksibilitas operasional di tengah gangguan rantai pasok global.
Sementara itu, bisnis energi terbarukan juga menunjukkan pertumbuhan positif. Pendapatan segmen ini meningkat 11,5% secara tahunan menjadi US$334 juta, atau sekitar Rp6,04 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya produksi listrik panas bumi setelah penyelesaian proyek retrofit, serta membaiknya kinerja pembangkit listrik tenaga angin.
BRPT juga terus memperkuat ekspansi bisnis di Indonesia. Perseroan mengungkapkan bahwa proyek CA-EDC senilai sekitar US$1 miliar atau setara Rp18,09 triliun telah mencapai 72% penyelesaian konstruksi dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Investasi tersebut diharapkan memperkuat industri petrokimia nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor bahan baku.
Selain itu, kapasitas pembangkit listrik panas bumi Perseroan diproyeksikan melampaui 1 gigawatt (GW) pada akhir tahun ini sebagai bagian dari strategi memperbesar porsi energi bersih dalam portofolio bisnis.
Dari sisi neraca, hingga akhir Juni 2026 BRPT memiliki total aset sebesar US$18,952 miliar, atau sekitar Rp342,78 triliun. Perseroan juga mempertahankan struktur permodalan yang sehat dengan rasio net debt to equity sebesar 0,76 kali, mencerminkan likuiditas yang tetap kuat meski volatilitas pasar global masih tinggi.
Manajemen menegaskan akan tetap fokus menjalankan strategi transformasi jangka panjang melalui penguatan bisnis di Indonesia dan ekspansi secara selektif di tingkat regional. Dengan portofolio usaha yang semakin terdiversifikasi, BRPT optimistis mampu menjaga pertumbuhan berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi para pemegang saham dalam jangka panjang.












