Minat investor institusi terhadap Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan peningkatan. Salah satu pendorong utamanya datang dari Morgan Stanley Bitcoin Trust, yang kini telah mencatat arus masuk dana (inflow) kumulatif lebih dari US$400 juta.
Dilansir dari cryptonews.net. di sisi lain, produk Spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat juga terus menarik perhatian investor. Hingga saat ini, total arus masuk bersih (net inflow) seluruh ETF Bitcoin spot telah mencapai US$51,83 miliar, menandakan minat jangka panjang terhadap aset kripto terbesar di dunia tersebut masih tetap kuat.
Meski demikian, optimisme pasar belum sepenuhnya pulih. Dalam perdagangan harian terbaru, ETF Bitcoin justru mengalami arus keluar (outflow) sekitar US$240 juta, menunjukkan bahwa permintaan jangka pendek masih berfluktuasi.
Situasi ini terjadi ketika harga Bitcoin masih bergerak di bawah level psikologis US$65.000, sehingga pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah pembelian dari investor institusi mampu mendorong reli harga berikutnya.
Morgan Stanley Jadi Sorotan Investor Bitcoin
Masuknya dana lebih dari US$400 juta ke Morgan Stanley Bitcoin Trust memperlihatkan bahwa institusi keuangan besar masih melihat Bitcoin sebagai aset investasi yang menarik.
Tren ini semakin diperkuat oleh pertumbuhan dana yang masuk ke berbagai Spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat sejak awal tahun. Bagi banyak analis, arus modal dari institusi menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga Bitcoin dalam jangka menengah hingga panjang.
Namun demikian, adanya outflow harian menunjukkan sebagian investor masih memilih melakukan aksi ambil untung atau mengurangi eksposur di tengah ketidakpastian pasar.
Data On-Chain Beri Sinyal Positif
Sejumlah indikator on-chain menunjukkan bahwa Bitcoin masih memiliki peluang untuk melanjutkan kenaikan.
Salah satunya adalah MVRV Z-Score, yang saat ini berada di level 0,39. Angka tersebut mengindikasikan bahwa harga Bitcoin masih diperdagangkan relatif dekat dengan nilai realisasinya (Realized Value).
Secara historis, MVRV Z-Score yang rendah sering kali muncul pada fase akumulasi sebelum harga mengalami kenaikan lebih lanjut. Meski begitu, indikator ini belum cukup untuk memastikan bahwa Bitcoin telah mencapai titik terendah (bottom).
Selain itu, aktivitas penjualan dari para penambang (miner) juga mulai melambat. Data menunjukkan transfer Bitcoin dari dompet miner ke bursa kripto turun menjadi 968 BTC, level terendah dalam satu bulan terakhir.
Penurunan transfer tersebut berpotensi mengurangi tekanan jual di pasar, sehingga permintaan dari investor institusi dapat memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap pergerakan harga Bitcoin.
Level US$65.000 Masih Menjadi Ujian Berat
Dari sisi analisis teknikal, level US$65.000 masih menjadi area resistensi yang sangat penting.
Zona tersebut sebelumnya merupakan area support sebelum akhirnya berubah menjadi resistance setelah koreksi harga yang terjadi pada Mei lalu. Hingga kini, setiap upaya pemulihan Bitcoin masih tertahan di bawah level tersebut.
Analis juga mencatat masih terdapat beberapa area ketidakseimbangan harga (market imbalance) yang belum terisi, dengan konsentrasi terbesar berada di atas level US$65.000.
Dalam banyak kasus, pasar cenderung kembali menguji area tersebut sebelum menentukan tren berikutnya. Namun, tidak ada jaminan bahwa seluruh celah harga akan selalu ditutup.
Jika Bitcoin mampu menembus dan bertahan di atas US$65.000, maka struktur pasar diperkirakan akan kembali membaik dan membuka peluang reli yang lebih kuat.
Momentum Masih Melemah
Sementara itu, indikator Stochastic RSI berada di level 31, mendekati area jenuh jual (oversold) yang umumnya berada di bawah angka 20.
Kondisi tersebut menunjukkan momentum kenaikan mulai melemah. Namun, indikator ini belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan arah harga.
Dengan demikian, kombinasi arus masuk dana dari investor institusi dan berkurangnya tekanan jual dari miner memang memberikan sentimen positif bagi Bitcoin. Akan tetapi, konfirmasi utama tetap berada pada kemampuan BTC menembus dan bertahan di atas level US$65.000.
Apabila level tersebut berhasil ditembus, peluang Bitcoin untuk melanjutkan tren kenaikan akan semakin terbuka. Sebaliknya, jika kembali gagal menembus resistance tersebut, pergerakan harga berpotensi tetap bergerak dalam fase konsolidasi dalam jangka pendek.












