JAKARTA – Platform perdagangan saham dan aset kripto Robinhood mengonfirmasi bahwa akun media sosial X (sebelumnya Twitter) milik Chief Executive Officer (CEO) Vlad Tenev telah diretas. Pelaku memanfaatkan akun tersebut untuk menyebarkan promosi memecoin palsu kepada jutaan pengikutnya.
Robinhood memastikan unggahan tersebut bukan berasal dari Tenev maupun tim resmi perusahaan. Postingan ilegal itu kini telah dihapus setelah akses ke akun berhasil dipulihkan.
Dalam pernyataan resminya di X, Robinhood mengingatkan para pengguna agar tidak mempercayai promosi token yang sempat muncul dari akun CEO mereka.
“Perhatian: Akun X CEO kami, Vlad Tenev, telah diretas dan digunakan untuk mempromosikan meme coin palsu. Unggahan tersebut tidak sah,” tulis Robinhood.
Peretasan Bertolak Belakang dengan Visi Blockchain Robinhood
Insiden ini menjadi ironis karena beberapa waktu sebelumnya Vlad Tenev justru menegaskan bahwa masa depan industri kripto bukan berada pada memecoin spekulatif, melainkan pada tokenisasi aset dunia nyata (Real World Assets/RWA).
Dalam presentasi usai peluncuran Stock Tokens serta jaringan blockchain Ethereum Layer-2 milik Robinhood, Tenev menjelaskan bahwa teknologi blockchain seharusnya dimanfaatkan untuk membawa aset keuangan tradisional ke jaringan blockchain agar investasi menjadi lebih mudah, efisien, dan dapat diakses lebih luas.
Robinhood sendiri terus memperluas strategi tokenisasinya melalui pengembangan berbagai produk keuangan berbasis blockchain, termasuk saham yang ditokenisasi dan aset digital yang berada dalam kerangka regulasi. Strategi tersebut mempertegas posisi Robinhood sebagai perusahaan layanan keuangan digital, bukan platform yang berfokus pada memecoin.
Modus Lama, Akun Terverifikasi Jadi Sasaran Hacker
Kasus yang menimpa Robinhood menambah panjang daftar akun media sosial milik perusahaan kripto besar yang berhasil dibajak oleh peretas.
Sebelumnya, akun resmi tata kelola Arbitrum DAO juga sempat diretas. Saat itu tim Arbitrum langsung mengeluarkan peringatan agar pengguna tidak mengklik tautan maupun mengikuti informasi apa pun yang dipublikasikan dari akun tersebut hingga kendali berhasil dipulihkan.
Sejumlah perusahaan dan tokoh kripto lain juga pernah mengalami kejadian serupa. Para pelaku biasanya memanfaatkan akun yang telah terverifikasi untuk menyebarkan promosi token palsu, tautan phishing, hingga program giveaway fiktif yang bertujuan mencuri aset investor.
Peneliti keamanan siber menilai serangan semacam ini lebih banyak mengeksploitasi kepercayaan publik terhadap akun resmi, bukan kelemahan pada jaringan blockchain itu sendiri. Karena itu, respons cepat perusahaan melalui peringatan publik menjadi langkah penting untuk meminimalkan potensi kerugian pengguna.
Fokus Robinhood Tetap pada Tokenisasi Aset
Meski insiden peretasan sempat mengganggu komunikasi perusahaan di media sosial, Robinhood menegaskan tidak ada indikasi bahwa serangan tersebut berdampak terhadap layanan maupun pengembangan teknologi blockchain mereka.
Perusahaan tetap melanjutkan investasi pada infrastruktur blockchain, layanan aset digital, dan produk keuangan berbasis tokenisasi. Vlad Tenev juga kembali menegaskan bahwa aset yang ditokenisasi dan berada di bawah regulasi akan menjadi fondasi utama perkembangan industri keuangan digital di masa depan, dibandingkan memecoin yang cenderung bersifat spekulatif.
Dengan maraknya peretasan akun media sosial di industri kripto, investor diimbau untuk selalu melakukan verifikasi informasi melalui kanal resmi perusahaan sebelum membeli aset digital atau mengikuti promosi token tertentu.












