Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan kekuatannya dengan berhasil menembus level psikologis US$65.000 untuk kedua kalinya pada bulan ini. Kenaikan tersebut memicu optimisme baru di pasar kripto, meski para analis masih menunggu konfirmasi apakah aset digital terbesar di dunia itu benar-benar siap memasuki tren bullish yang berkelanjutan.
Dilansir dari cryptotimes.io, pada saat penulisan Selasa (21/7/2026), Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$65.425, naik 1,45% dalam 24 jam terakhir. Aktivitas perdagangan juga meningkat tajam, dengan volume transaksi melonjak 81% menjadi sekitar US$28,53 miliar, sementara kapitalisasi pasarnya mencapai US$1,31 triliun.
Meski demikian, level US$65.000 masih menjadi area resistensi penting yang beberapa kali gagal dipertahankan sepanjang Juli.
Arus Dana ETF Bitcoin Kembali Positif
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga Bitcoin adalah kembali mengalirnya dana ke ETF spot Bitcoin yang diperdagangkan di Amerika Serikat.
Berdasarkan data SoSoValue, ETF spot Bitcoin mencatat arus masuk bersih (net inflow) sebesar US$75,7 juta pada pekan yang berakhir 17 Juli. Ini menjadi pekan kedua berturut-turut ETF mencatat arus dana positif setelah sebelumnya membukukan sekitar US$197 juta.
Secara keseluruhan, total arus masuk ETF Bitcoin sepanjang Juli kini mencapai sekitar US$200,2 juta.
Kembalinya dana institusional ini mengindikasikan tekanan jual mulai mereda, meski nilainya masih jauh lebih kecil dibandingkan gelombang penarikan dana yang terjadi sebelumnya.
Pada Juni lalu, ETF spot Bitcoin di AS mencatat arus keluar bersih mencapai US$4,5 miliar, sehingga total arus dana sepanjang 2026 masih berada di wilayah negatif sekitar US$5,2 miliar.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar masih berhati-hati sebelum menyimpulkan bahwa Bitcoin telah memasuki tren kenaikan jangka panjang.
Investor Besar Terus Borong Bitcoin
Selain meningkatnya minat terhadap ETF, investor dengan kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar juga terus menambah koleksi mereka.
Data dari CryptoQuant menunjukkan bahwa dompet yang menyimpan antara 1.000 hingga 10.000 BTC telah mengakumulasi sekitar 66.700 BTC selama 60 hari terakhir. Jumlah ini hampir menyamai akumulasi 68.000 BTC pada pertengahan Juni dan menjadi aksi pembelian terbesar sejak Februari.
Sebaliknya, kelompok investor dengan kepemilikan 100 hingga 1.000 BTC justru menjual sekitar 77.800 BTC dalam periode yang sama.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa sebagian Bitcoin berpindah dari investor menengah ke investor besar, bukan langsung dilepas ke pasar. Kondisi ini berpotensi mengurangi pasokan Bitcoin yang tersedia untuk dijual dalam waktu dekat sehingga dapat memberikan dukungan terhadap harga.
Level US$65.000 Jadi Penentu Arah Selanjutnya
Analis kripto Daan Crypto Trades menilai level US$65.000 masih menjadi hambatan utama bagi Bitcoin sepanjang Juli.
Namun, menurutnya, semakin lama Bitcoin mampu bertahan di sekitar level tersebut sambil membentuk pola higher lows atau titik terendah yang terus meningkat, peluang untuk menembus resistensi akan semakin besar.
Secara teknikal, Bitcoin sempat mencoba menembus level tersebut pada 15 Juli, tetapi gagal dan terkoreksi hingga sekitar US$62.460 sebelum akhirnya kembali menguat.
Jika Bitcoin mampu menembus US$66.500 dengan volume perdagangan yang kuat, peluang kenaikan menuju kisaran US$68.000 hingga US$70.000 akan semakin terbuka.
Sebaliknya, apabila kembali ditolak di sekitar US$65.000 dan turun di bawah US$63.000, momentum bullish saat ini berpotensi melemah.
Sementara itu, indikator Relative Strength Index (RSI) berada di angka 66,34, menandakan dominasi pembeli masih cukup kuat meski pasar mulai mendekati area overbought. Nilai tersebut juga menunjukkan ruang kenaikan masih tersedia sebelum tekanan jual meningkat.
Keputusan The Fed Bisa Menjadi Katalis Berikutnya
Selain faktor teknikal, perhatian investor kini tertuju pada sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Federal Reserve dijadwalkan menggelar rapat kebijakan moneter pada 28–29 Juli, disusul dengan rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II dan indeks PCE pada 30 Juli.
Hasil dari agenda tersebut dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga dan arah arus modal ke pasar aset digital.
Untuk saat ini, Bitcoin memang berhasil merebut kembali level US$65.000. Namun, tantangan sebenarnya adalah apakah harga mampu mempertahankan level tersebut sebagai area support baru. Jika berhasil, peluang melanjutkan reli menuju level yang lebih tinggi akan semakin terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan posisi di atas US$65.000 dapat memicu koreksi dan memperpanjang fase konsolidasi yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.












