Kabar mengejutkan datang dari Honda Prologue. Kendaraan listrik (EV) tersebut secara resmi dinyatakan “mati” di pasar Amerika Serikat—sebuah keputusan yang telah dikonfirmasi oleh Honda kepada TechCrunch. Langkah ini sekaligus menghapus model *all-electric* terakhir dari portofolio Honda di AS.
Gugurnya Honda Prologue bukan sekadar tanda mundurnya Honda dari tren EV, melainkan gambaran dari fenomena yang lebih besar: mundurnya industri kendaraan listrik secara massal dari pasar AS, sebuah kondisi yang sangat kontras jika dibandingkan dengan pertumbuhan EV di belahan dunia lainnya.
Lantas, apa yang melatarbelakangi fenomena ini, dan model EV apa saja yang ikut menyusul nasib Honda Prologue?
Penyebab Lesunya Pasar EV di Amerika Serikat
Salah satu faktor terbesar yang memukul penjualan EV di AS adalah berakhirnya insentif pajak federal sebesar $7.500 (sekitar Rp117 juta). Namun, itu bukan satu-satunya alasan. Kebijakan tarif, perubahan selera konsumen, tingginya biaya produksi, pergeseran prioritas perusahaan, hingga regulasi pemerintah turut menjadi pemicu.
Berdasarkan data dari Kelley Blue Book dan Cox Automotive yang dirilis Juli lalu, sebanyak 247.226 unit EV terjual pada kuartal kedua, atau hanya menyumbang sekitar 5,8% dari total pasar otomotif. Meski ada pertumbuhan dibanding kuartal pertama tahun 2026, angka penjualan ini masih turun drastis dibanding periode yang sama tahun lalu (sebelum insentif pajak dihapus pada musim gugur 2025).
Walau pasar menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang lambat dan model baru seperti Rivian R2 mulai masuk, para produsen otomotif tetap memilih mengambil langkah ekstrem dengan menyuntik mati atau menghentikan penjualan berbagai model EV mereka.
Berikut adalah daftar kendaraan listrik yang telah atau sedang meninggalkan pasar AS di tahun 2026:
1. Afeela
Afeela berawal dari Vision S, sebuah prototipe ambisius yang dipamerkan oleh Sony pada ajang CES 2020. Pada tahun 2022, Honda masuk dan membentuk perusahaan patungan bersama raksasa teknologi tersebut. Meski sempat gencar dipromosikan di berbagai ajang teknologi, Afeela tidak pernah masuk ke jalur produksi massal. Pada Maret 2026, kerja sama ini resmi menghentikan proyek dua model EV di bawah merek Afeela.
2. Honda dan Acura

Credits:Honda
Sebelum menyuntik mati Prologue, Honda sempat mengumumkan ambisi besarnya melalui “O Series” di CES 2025. Namun, pada Maret 2026, akibat tarif AS dan ketatnya persaingan dari produsen China, Honda merombak total rencananya dan membatalkan pengembangan Acura RDX elektrik, serta sedan dan SUV dari lini O Series.
Puncaknya terjadi pada pertengahan Juli, ketika Honda mengonfirmasi penghentian total model Prologue. Padahal, Prologue—yang merupakan hasil kerja sama dengan General Motors—sempat terjual cukup baik (33.000 unit pada 2024 dan 39.000 unit pada 2025) sebelum akhirnya penjualannya terjun bebas setelah insentif pajak berakhir.
3. Hyundai
Secara umum, Hyundai terbilang sukses menjual EV di AS. Namun, demi alasan ekonomi, produsen asal Korea Selatan ini memutuskan untuk berhenti menjual Hyundai Ioniq 6 di AS per Maret lalu. Kebijakan ini sangat dipengaruhi oleh masalah tarif, karena Ioniq 6 diproduksi di Korea Selatan dan diimpor ke AS (berbeda dengan Ioniq 5 dan Ioniq 9 yang dirakit secara lokal di Georgia, AS). Kendati demikian, varian performa tinggi yang lebih mahal dan eksklusif, Ioniq 6 tipe N, akan tetap diimpor.
4. Nissan
Pelopor EV lewat model Leaf ini memutuskan untuk tidak memproduksi model tahun 2026 untuk SUV listrik mereka, Nissan Ariya, di pasar AS. Diperkenalkan pertama kali pada tahun 2020, Ariya tampaknya tidak akan kembali lagi ke pasar Amerika dalam waktu dekat.
5. Polestar
Polestar, produsen EV asal Swedia yang dimiliki oleh raksasa otomotif China, Geely, terpaksa harus angkat kaki dari AS. Hal ini terjadi karena kebijakan AS yang melarang teknologi kendaraan yang terhubung dengan China (Chinese-connected vehicle technology). Tanpa izin khusus dari Departemen Perdagangan AS, Polestar praktis diblokir. Perusahaan menyatakan hanya akan menghabiskan stok Polestar 3 dan Polestar 4 yang tersisa di AS sambil tetap menyediakan layanan purnajual bagi konsumen.
6. Tesla Model S dan Model X

A Tesla Model S in Palo Alto, California
Langkah mengejutkan juga diambil oleh raksasa EV, Tesla. Pada Januari lalu, Tesla mengumumkan penghentian produksi sedan mewah Model S dan SUV Model X. Bagi Tesla, masa depan bukan lagi tentang sedan atau SUV elektrik tradisional, melainkan kecerdasan buatan (AI), teknologi otonom (*self-driving*), dan robotika. Unit terakhir dari Model S dan X telah keluar dari lini produksi pada musim semi ini, dan areanya di pabrik Fremont, California, kini dialihkan untuk memproduksi robot Optimus.
7. Volkswagen
Volkswagen melakukan perampingan besar-besaran untuk model ID.4 dan ID. Buzz. Pada April lalu, VW menghentikan produksi SUV listrik ID.4 di pabrik mereka di Tennessee guna mengalihkan fokus ke kendaraan konvensional (bensin) bervolume tinggi seperti SUV Atlas. Stok ID.4 yang ada saat ini diperkirakan hanya akan bertahan hingga 2027. Sementara itu, minivan ikonik ID. Buzz mengalami masa hiatus (kosong untuk model 2026) dan baru akan kembali pada tahun 2027.
8. Volvo
Pada Maret lalu, Volvo memutuskan untuk menarik SUV subkompak murah mereka, Volvo EX30 beserta varian Cross Country dari pasar AS setelah musim panas. Langkah ini cukup disayangkan mengingat EX30 awalnya mendapat antusiasme tinggi sebagai opsi EV Volvo yang paling terjangkau. Sebagai gantinya, Volvo kini hanya fokus menjual SUV listrik berukuran besar seperti EX60 dan EX90 di AS.
Sumber: techcrunch












