Konflik yang berkepanjangan di Iran membuat biaya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tarif sewa kapal tanker minyak raksasa kini menembus US$1 juta per hari, mencerminkan tingginya risiko pelayaran di salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Data Baltic Exchange menunjukkan biaya menyewa Very Large Crude Carrier (VLCC) untuk mengangkut minyak dari Teluk Persia menuju China mencapai sekitar US$1,035 juta per hari pada pekan ini. Angka tersebut menjadi rekor baru setelah untuk pertama kalinya melampaui batas US$1 juta per hari.
Sebelum konflik memanas, tarif pengiriman pada rute yang sama hanya sekitar US$208.000 per hari, berdasarkan indeks Platts VLCC.
Lonjakan biaya ini terjadi ketika perang Iran memasuki bulan ketujuh, sementara arus pelayaran komersial di Selat Hormuz menurun drastis akibat meningkatnya ancaman keamanan.
Risiko Perang Jadi Pemicu Utama
Analis angkutan laut Vortexa, Ioannis Papadimitriou, mengatakan lonjakan tarif terutama dipicu oleh meningkatnya risiko bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Menurutnya, perusahaan pelayaran kini harus memperhitungkan kemungkinan serangan terhadap kapal dagang, sehingga tarif pengiriman ikut melonjak.
Situasi tersebut semakin memburuk setelah dua kapal tanker dilaporkan terkena proyektil di Selat Hormuz, menegaskan bahwa kapal komersial masih menjadi sasaran di kawasan tersebut.
Selain ancaman serangan, biaya asuransi kapal juga meningkat tajam. Premi asuransi kini mencapai sekitar 10 persen dari nilai aset dan muatan kapal, jauh lebih tinggi dibanding sebelum perang yang hanya berkisar 0,5 hingga 1 persen.
Kenaikan premi tersebut kemudian dibebankan kepada penyewa kapal atau pembeli jasa pengangkutan minyak.
Kapasitas Kapal Semakin Ketat
Tingginya risiko membuat semakin sedikit kapal yang bersedia melintasi bagian timur Selat Hormuz yang dianggap paling berbahaya.
Akibatnya, kapasitas pengiriman minyak menjadi lebih terbatas, sementara permintaan pengangkutan tetap tinggi karena pasokan minyak dari kawasan Teluk harus segera dikirim ke pasar global.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan pelayaran justru menambah armada mereka untuk mengamankan kontrak pengiriman sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok energi.
Kilang Minyak dan Konsumen Menanggung Beban
Pihak yang paling merasakan kenaikan biaya logistik adalah perusahaan kilang minyak.
Mereka tidak hanya harus membayar ongkos pengiriman yang jauh lebih mahal, tetapi juga membeli minyak mentah dengan harga yang kembali menembus US$100 per barel akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah.
Rute alternatif di luar Selat Hormuz juga membutuhkan waktu pelayaran lebih lama sehingga menambah biaya operasional.
Tekanan terhadap margin kilang berpotensi diteruskan ke konsumen melalui kenaikan harga bahan bakar.
Laporan Fortune menyebut harga diesel di sejumlah pasar telah melampaui US$6 per galon, sekitar 60 persen lebih tinggi dibanding sebelum perang Iran.
Perusahaan Pelayaran Raup Keuntungan Besar
Di tengah lonjakan biaya logistik, perusahaan pelayaran justru menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Clarksons, broker kapal terbesar di dunia, melaporkan kinerja keuangan kuartalan terbaiknya dengan laba operasional melonjak sekitar 55 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tarif angkutan juga memberikan keuntungan besar bagi investor sektor pelayaran. Nilai Breakwave Tanker Shipping ETF, salah satu instrumen investasi yang berfokus pada perusahaan kapal tanker, tercatat melonjak lebih dari 3.600 persen sepanjang tahun berjalan.
Papadimitriou menilai kondisi ini bukan hal baru dalam industri pelayaran. Menurutnya, setiap kali ketegangan geopolitik menciptakan gangguan perdagangan global, perusahaan pelayaran biasanya menjadi pihak yang paling menikmati keuntungan dari lonjakan tarif angkutan.
Selat Hormuz Tetap Jadi Jalur Energi Strategis
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk Persia menuju Asia, Eropa, dan berbagai kawasan lainnya.
Gangguan sekecil apa pun di jalur tersebut dapat langsung memengaruhi pasokan energi global, mendorong kenaikan harga minyak, biaya pengiriman, hingga harga bahan bakar di berbagai negara.








