Pemerintah Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanannya terhadap Ford Motor Co. terkait kerja sama teknologi dengan perusahaan baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL). Departemen Transportasi AS (Department of Transportation/DOT) menilai hubungan tersebut berpotensi mengancam kemandirian teknologi dan lapangan kerja di sektor otomotif Amerika.
Melalui surat tertanggal 3 September 2026 yang ditujukan kepada CEO Ford Jim Farley, Menteri Perhubungan AS Sean Duffy menyatakan pihaknya masih sangat khawatir terhadap ketergantungan Ford pada teknologi berlisensi dari China.
Dalam surat tersebut, Duffy mengakui persaingan industri otomotif global semakin ketat. Namun, ia menilai keputusan Ford bermitra dengan perusahaan China menunjukkan arah yang mengkhawatirkan bagi salah satu merek otomotif terbesar Amerika.
“Ford harus menunjukkan tanggung jawab sebagai perusahaan Amerika dengan mengutamakan ketahanan jangka panjang dan kedaulatan teknologi industri otomotif Amerika Serikat, bukan kepentingan jangka pendek atau aliansi asing yang dipertanyakan,” tulis Duffy.
Sorotan pada Pabrik Baterai BlueOval di Michigan
Fokus utama pemerintah AS adalah fasilitas BlueOval Battery Park milik Ford di Marshall, Michigan.
Pada Februari 2023, Ford mengumumkan investasi sebesar US$3,5 miliar untuk membangun pabrik baterai kendaraan listrik tersebut. Meski seluruh kepemilikan pabrik berada di tangan Ford, perusahaan menandatangani perjanjian lisensi dengan CATL untuk menggunakan pengetahuan dan layanan teknologi produksi baterai lithium iron phosphate (LFP).
Ford sebelumnya menyatakan produksi perdana sel baterai dari fasilitas tersebut dijadwalkan mulai dikirimkan pada akhir tahun ini.
Menurut Duffy, ketergantungan operasional terhadap teknologi dari pesaing strategis seperti China tidak sejalan dengan harapan pemerintah terhadap perusahaan otomotif Amerika.
“Perusahaan ikonik Amerika seperti Ford diharapkan mampu mengungguli para pesaing melalui inovasi, bukan semakin bergantung pada teknologi mereka,” ujar Duffy.
Ford Bantah Tuduhan Pemerintah
Ford merespons cepat surat tersebut dengan menegaskan dukungannya terhadap visi pemerintahan Presiden Donald Trump dalam memperkuat inovasi dan manufaktur Amerika Serikat.
Perusahaan menyebut kerja sama dengan CATL di Michigan bukan joint venture, melainkan hanya perjanjian lisensi teknologi dan layanan terbatas.
Menurut Ford, fasilitas BlueOval tetap dimiliki dan dioperasikan sepenuhnya oleh Ford di Amerika Serikat.
“Surat Menteri Duffy merupakan upaya yang keliru untuk mencari perhatian publik dengan mengorbankan perusahaan yang telah memberikan kontribusi besar bagi manufaktur Amerika selama sejarahnya,” tulis Ford dalam pernyataan resminya.
Ford juga menyebut surat DOT mengandung sejumlah kesalahan fakta, termasuk penyebutan kerja sama dengan CATL sebagai bentuk usaha patungan.
Perselisihan Soal Geely dan Produksi Lincoln
Dalam suratnya, Duffy juga menyinggung kerja sama Ford dengan Geely Auto di Spanyol. Ia menilai kolaborasi tersebut membantu perusahaan China memperkuat pijakan di pasar Barat.
Ford membantah klaim itu dan menjelaskan bahwa kerja sama dengan Geely merupakan proyek terpisah untuk produksi kendaraan di pabrik Ford di Valencia, Spanyol, sehingga tidak berkaitan dengan fasilitas baterai CATL di Michigan.
Selain itu, pemerintah AS mengkritik keputusan Ford yang baru akan menghentikan impor Lincoln Nautilus dari China mulai 2030. Menurut Duffy, penundaan tersebut membuat Amerika tetap bergantung pada manufaktur China selama beberapa tahun ke depan dan mengurangi peluang penciptaan lapangan kerja di dalam negeri.
Ford menilai kritik tersebut tidak berdasar. Perusahaan mengatakan strategi penghentian impor dilakukan secara bertahap sambil menyesuaikan kapasitas produksi dan kondisi pasar.
Ford Tegaskan Komitmen pada Manufaktur AS
Ford menegaskan bahwa strategi perusahaan tetap berfokus pada kepemilikan Amerika, tenaga kerja Amerika, dan produksi di Amerika Serikat, dengan tetap menjaga standar keamanan nasional.
Perusahaan juga menyayangkan Departemen Transportasi mempublikasikan surat tersebut tanpa lebih dulu menghubungi Ford untuk meminta penjelasan.
“Seandainya Menteri Duffy menghubungi kami sebelum merilis surat itu ke media, kami dengan senang hati menjelaskan lebih rinci komitmen Ford terhadap investasi dan manufaktur di Amerika Serikat,” ujar Ford.
Perselisihan ini mencerminkan meningkatnya ketegangan antara pemerintah AS dan produsen otomotif terkait penggunaan teknologi serta rantai pasok asal China, terutama di tengah persaingan global industri kendaraan listrik yang semakin intens.












