Situasi keamanan di Selat Hormuz kembali memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan setelah Iran meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran strategis tersebut. Kondisi ini membuat perusahaan pelayaran mengurangi aktivitas transit, sementara awak kapal semakin enggan berlayar karena tingginya ancaman keselamatan.
Chief Executive Officer (CEO) perusahaan layanan risiko maritim Marisks yang berbasis di Athena, Dimitris Maniatis, menyebut kondisi saat ini sebagai “skenario terburuk” bagi kapal tanker minyak yang beroperasi di Selat Hormuz.
Menurut Maniatis, volume kapal yang melintasi selat tersebut terus menurun karena para awak kapal kini lebih mengutamakan keselamatan dibandingkan keuntungan ekonomi.
“Tidak ada yang benar-benar bersedia bergerak. Awak kapal saat ini jauh lebih khawatir dibanding sebelumnya,” ujar Maniatis dalam pengarahan yang diselenggarakan Lloyd’s List Intelligence.
Ia menambahkan bahwa ketakutan telah menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan para pelaut.
Sedikitnya Sembilan Kapal Diserang
Berdasarkan data Organisasi Maritim Internasional (IMO), sedikitnya sembilan kapal menjadi sasaran serangan sejak 6 Juli. Iran disebut berupaya memaksa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menggunakan jalur yang berada di wilayah perairan teritorialnya, bukan rute di sepanjang pantai Oman yang selama ini mendapat perlindungan dari militer Amerika Serikat.
Salah satu insiden paling serius terjadi pada Selasa ketika kapal tanker minyak mentah Al Bahyah diserang di lepas pantai Oman. Serangan tersebut menewaskan satu pelaut dan melukai tiga awak lainnya.
Pada hari yang sama, kapal tanker minyak mentah Mombasa B juga diserang saat berlayar di dekat perairan Oman. Sebanyak 11 awak kapal dilaporkan mengalami luka-luka.
Chief Security Officer BIMCO, Jakob Larsen, mengatakan serangan-serangan tersebut melibatkan penggunaan rudal antikapal, sehingga meningkatkan risiko terhadap seluruh armada komersial yang beroperasi di kawasan tersebut.
Menurut Larsen, kekhawatiran awak kapal kini tidak lagi berkaitan dengan besarnya kompensasi atau insentif yang diberikan perusahaan.
“Yang mendominasi saat ini adalah rasa takut. Itu yang menentukan apakah mereka bersedia berlayar atau tidak,” katanya.
Ancaman Ranjau Laut Masih Tinggi
Selain serangan rudal, ancaman ranjau laut juga menjadi perhatian utama. Larsen menjelaskan bahwa jalur pelayaran utama di tengah Selat Hormuz atau Traffic Separation Scheme (TSS) masih dianggap terlalu berbahaya karena berpotensi dipasangi ranjau.
Menurutnya, ledakan ranjau yang terjadi di bawah lambung kapal dapat menyebabkan kerusakan besar hingga menenggelamkan kapal.
“Ranjau laut merupakan salah satu senjata paling mematikan bagi kapal yang melintas,” ujarnya.
Amerika Serikat Perketat Blokade Laut
Di tengah meningkatnya ketegangan, militer Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah melumpuhkan kapal tanker kosong berbendera Curacao, M/T Belma, setelah kapal tersebut mengabaikan sejumlah peringatan ketika berlayar menuju Pulau Kharg, Iran.
Langkah tersebut dilakukan setelah Washington memperketat operasi militernya sebagai respons terhadap serangkaian serangan terhadap kapal tanker.
Lalu Lintas Selat Hormuz Menurun Tajam
Meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Selat Hormuz terbuka bagi seluruh kapal kecuali kapal milik Iran, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut justru mengalami penurunan drastis.
Perusahaan pelacakan kapal melaporkan hanya sedikit kapal yang masih berani melintas, bahkan sebagian besar mematikan sistem identifikasi otomatis (transponder) selama perjalanan demi alasan keamanan.
Data perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi hanya delapan kapal pada Kamis, dibandingkan 15 kapal sehari sebelumnya.
Sebelum konflik meningkat akibat operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, lebih dari 100 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Seorang pejabat senior pemerintahan Amerika Serikat menyatakan bahwa kapal-kapal yang mengangkut jutaan barel minyak masih berhasil melintas pada Kamis. Namun, volume ekspor tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kondisi normal sebelum konflik, ketika sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk turunannya melewati Selat Hormuz setiap hari.
Konflik Berpotensi Semakin Meluas
Amerika Serikat telah melancarkan enam gelombang serangan udara terhadap Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal tanker.
Sebagai respons, Iran menembakkan sejumlah rudal yang menargetkan sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Selain itu, Iran bersama kelompok Houthi di Yaman juga mengancam akan mengganggu lalu lintas kapal di Laut Merah, jalur alternatif penting bagi ekspor minyak Arab Saudi selama konflik berlangsung.
Larsen memperingatkan bahwa situasi masih berada pada jalur eskalasi dan berpotensi memburuk apabila tidak segera ditemukan solusi diplomatik.
Awak Kapal Menjadi Penentu
Ketegangan juga dipicu oleh belum adanya kesepakatan teknis mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani Amerika Serikat dan Iran pada 17 Juni.
Meskipun Iran menjanjikan jalur pelayaran yang aman, kesepakatan tersebut tidak menjelaskan jalur mana yang harus digunakan kapal-kapal komersial.
Larsen menilai perusahaan pelayaran membutuhkan jaminan keamanan yang jelas dari kedua belah pihak sebelum kembali mengoperasikan armadanya secara normal.
Ia menambahkan bahwa setiap perusahaan memiliki tingkat toleransi risiko yang berbeda. Sebagian masih bersedia mengirim kapal melewati Selat Hormuz, sementara perusahaan lainnya memilih menghentikan seluruh aktivitas di kawasan tersebut.
Namun demikian, keputusan akhir bukan hanya berada di tangan pemilik perusahaan.
“Keputusan itu juga bergantung pada apakah para awak kapal bersedia menjalankan pelayaran. Tanpa persetujuan mereka, kapal tidak akan berangkat,” tutup Larsen.
Sumber: CNBC







